TRIBUNJATIM.COM - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite tidak akan naik hingga akhir 2026.
Harga BBM menjadi pantauan belakangan ini dikarenakan harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Lonjakan harga minyak dunia diakibatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Tercatat, saat ini harga minyak mentah Brent turun 6,21 dolar AS atau 5,9 persen menjadi 98,28 dollar AS per barel.
Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 4,67 dolar AS atau 5,1 persen ke posisi 87,68 dollar AS per barel.
“APBN kita masih tahan. Saya tidak akan ubah APBN atau subsidi BBM sampai titik harga minyak benar-benar sangat tinggi,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenkeu Jakarta Pusat, dikutip dari Kontan, Rabu (25/3/2026).
Menurutnya, dengan asumsi harga minyak saat ini, ketahanan fiskal Indonesia diperkirakan masih terjaga hingga akhir tahun.
“Dengan harga minyak sekarang, sampai akhir tahun, APBN kita masih tahan. (Tapi ini juga) tergantung keputusan pimpinan nantinya. Tapi saya tawarkan aman,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menghitung skenario rerata harga minyak hingga mencapai US$ 97 per barel sepanjang tahun, atau naik dari asumsi APBN US$ 70 per barel.
Baca juga: Pengendara Kesal Antre BBM Harus Nunggu Lama, Ada Warga Beli BBM Pakai Jerigen dan Botol
Dalam kondisi tersebut, defisit APBN memang berpotensi melewati 3 persen jika tidak ada intervensi kebijakan.
Tetapi Purbaya menekankan pemerintah memiliki banyak instrumen untuk menjaga defisit tetap terkendali di bawah 3 persen, mulai dari optimalisasi penerimaan negara hingga efisiensi belanja.
“Kalau tidak melakukan apa-apa memang bisa lewat 3 persen. Tapi kalau kita ambil langkah, hasilnya bisa berbeda,” jelasnya.
Beberapa opsi yang disiapkan antara lain peningkatan penerimaan dari sektor komoditas seperti batu bara, penyesuaian kebijakan pungutan bea ekspor, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat.
Selain itu, pemerintah juga masih memiliki ruang efisiensi belanja, termasuk penyisiran anggaran kementerian dan lembaga (K/L) tak terkecuali efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia pun menepis kekhawatiran Indonesia akan mengalami kondisi darurat energi seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.
Menurutnya, krisis energi lebih berkaitan dengan gangguan pasokan, bukan sekadar kenaikan harga.
“Darurat energi itu kalau suplai berhenti. Kalau sekarang suplai masih ada, jadi belum masuk kondisi darurat,” katanya.
Ia menambahkan, struktur perekonomian Indonesia yang didominasi sektor swasta juga menjadi penopang penting di tengah tekanan global.
Belanja pemerintah, menurutnya hanya sekitar 10 persen PDB, sehingga aktivitas ekonomi secara keseluruhan tidak hanya bergantung pada APBN.
Pemerintah pun mengklaim telah memperhitungkan berbagai risiko secara menyeluruh, termasuk dampak terhadap inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi.
“Semua kemungkinan sudah kita hitung. Bantalan fiskal kita masih cukup,” paparnya.
Baca juga: Cara ASN Bangkalan Berhemat BBM di Tengah Kondisi Perang, Pakai Sepeda untuk Berangkat Kerja
Sementara itu, Pertamina juga menyatakan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM dalam negeri.
Komisaris PT Pertamina (persero), Hasan Nasbi menegaskan pemerintah belum menetapkan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
Hasan menyebut, saat ini memang harga minyak dunia mengalami kenaikan dampak perang.
Namun, Indonesia belum memutuskan soal kenaikan harga ini.
"Kita tidak ada kenaikan harga. Kalau di pasar dunia ada kenaikan harga, di dalam negeri pemerintah sejauh ini belum ada kebijakan menaikkan harga," ujarnya usai bersilaturahmi di kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026), dikutip dari Tribun Solo.
Baca juga: Rincian Aturan WFH 1 Hari yang Akan Segera Ditetapkan Pemerintah untuk Antisipasi BBM Langka
Terkait stok cadangan minyak di Indonesia yang disebut aman hingga 20 hari, Hasan menerangkan bahwa setiap hari pemerintah selalu memperbarui stok BBM dalam negeri.
"Kalau hari ini ditanya stoknya 20 hari, kemarin ditanya stoknya masih 20 hari. Besok ditanya masih 20 hari juga, karena stoknya terus diperbarui. Setiap hari seperti itu, minggu depan ditanya stoknya 20 hari. Pasokannya masuk terus," ujar Hasan.
Menurutnya, pembaruan stok BBM setiap hari tersebut bisa meredam kepanikan di tengah masyarakat.
Ia juga menegaskan pemerintah terus melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi kelangkaan minyak.
"Pemerintah selalu mengarahkan kita mengantisipasi jauh-jauh hari dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak perlu panic buying. Pemerintah akan melakukan penyesuaian, sudah ada ide dan rencana dari pemerintah untuk penghematan dari sisi konsumsi BBM. Jangan panik, sampai hari ini baik-baik saja. Inshaallah pemerintah mengusahakan yang terbaik," tutup dia.
Distribusi minyak dunia saat ini tengah tersendat imbas perang yang terjadi antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang berakibat ditutupnya Selat Hormuz.
Dampak tersebut juga dirasakan oleh Indonesia yang harus memutar otak untuk tetap menstabilkan distribusi minyak di dalam negeri.
Dampaknya langsung terasa, harga minyak mentah Brent melonjak dari sekitar 65 dolar menjadi lebih dari 100 dolar per barel.
Kondisi ini membuat banyak negara mulai khawatir akan kekurangan pasokan energi.
Baca juga: Pemprov Jatim Minta Masyarakat Tak Lakukan Panic Buying, Sebut Stok BBM dan LPG Aman
Beberapa negara bahkan sudah menaikkan Harga BBM, di antaranya:
Harga solar (diesel) di Vietnam meningkat lebih dari dua kali lipat, naik sekitar 105 persen hanya dalam waktu kurang dari satu bulan dikutip CNA, Rabu (25/3/2026).
Dari sekitar 19.270 dong (sekitar Rp12.369) per liter menjadi 39.660 dong (sekitar US$1,50).
Harga bensin oktan 95 juga melonjak sekitar 68 persen, dari 20.150 dong menjadi 33.840 dong per liter.
Kementerian Perdagangan Kamboja, dilansir Cambodia Ness Selasa(17/3/2026) melaporkan bahwa dalam periode tiga hari terbaru, harga bensin reguler naik menjadi sekitar 5.500 riel per liter (sekitar Rp23.000), meningkat 5,7 persen dibanding periode sebelumnya.
Harga solar (diesel) juga naik menjadi 6.550 riel per liter atau naik 2,3 persen.
Namun jika dilihat sejak awal konflik, kenaikannya jauh lebih signifikan, harga bensin telah melonjak sekitar 42,8 persen, sedangkan diesel bahkan naik hingga 70 persen.
Pada 24 Maret, perusahaan energi seperti Shell dan Esso kembali menaikkan harga diesel sebesar 20 sen menjadi sekitar $3,93 per liter (sekitar Rp66 ribu), menjadikannya hanya selisih 6 sen dari harga bensin oktan 98 ($3,99) dikutip Asia One Selasa(24/3/2026).
Kenaikan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya Sinopec juga menaikkan harga diesel.
Secara keseluruhan, harga diesel kini bahkan lebih mahal sekitar 46 sen dibanding bensin oktan 95 di SPBU yang sama.
Pemerintah Filipina menetapkan darurat energi nasional sebagai imbas dari perang Timur Tengah yang memengaruhi pasokan energi di negara tersebut.
Mengutip First Post, Senin (23/3/2026), Sri Lanka menaikkan harga bahan bakar sebesar 25 persen.
Harga bensin reguler naik dari Rs 317 menjadi Rs 398 per liter, sedangkan diesel, yang banyak digunakan di transportasi umum, naik dari Rs 303 menjadi Rs 382 per liter, atau meningkat Rs 79.
9 News pada Rabu (25/3/2026) melaporkan menurut laporan Business Risk Index dari CreditorWatch, harga diesel naik hingga 36 persen hanya dalam dua minggu dan mencapai sekitar $3 per liter.