TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, mengungkap alasan di balik keputusannya maju dan mengabdi di Sultra, bukan di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Andi Sumangerukka menyebut keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah.
Ia dihadapkan pada pilihan besar dengan konsekuensi yang sama-sama berat, baik saat menang maupun kalah dalam kontestasi.
“Ini bukan sekadar soal menang atau kalah, tetapi tentang tanggung jawab yang akan saya emban,” kata Andi Sumangerukka dalam diskusi Success Story dan Peluang Investasi di Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI Tahun 2026.
Acara tersebut berlangsung di Ballroom Phinisi Hotel Claro Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Sulsel, Kamis (26/3/2026).
Sebagai sosok dengan latar belakang militer, ia menyadari ekspektasi publik terhadap dirinya sangat tinggi.
Pengalaman kepemimpinannya, termasuk saat dipercaya sebagai Komandan Covid-19 ketika menjabat Pangdam XIV/Hasanuddin, turut membentuk keyakinannya untuk mengambil keputusan tersebut.
“Pada masa pandemi Covid-19, di banyak daerah biasanya gubernur yang memegang peran itu. Namun di sini, saya sendiri yang langsung turun memimpin,” jelasnya.
Andi Sumangerukka pun menyebut ada dua alasan utama yang mendorong dirinya memilih Sulawesi Tenggara sebagai tempat pengabdian.
Alasan pertama adalah faktor sejarah keluarga.
Ia mengenang masa ketika orang tuanya yang bertugas di wilayah terpencil di Sulawesi Tenggara.
“Untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu, bahkan bisa memakan waktu berhari-hari tergantung kondisi angin. Orang tua saya membawa delapan anak dalam kondisi yang sangat sederhana,” tuturnya.
Ia juga mengingat bagaimana masyarakat setempat membantu keluarganya tanpa pamrih.
Bahkan, pemilik perahu tidak pernah meminta bayaran meski kondisi ekonomi keluarga saat itu sangat terbatas.
“Dari pengalaman itu, tumbuh dalam diri saya perasaan bahwa saya memiliki utang budi kepada masyarakat yang telah membantu keluarga saya,” ungkapnya.
Alasan kedua adalah panggilan pengabdian yang berakar dari nilai-nilai yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di Akademi Militer.
“Di Akademi Militer, saya diajarkan bahwa kita tidak boleh bertanya apa yang negara berikan kepada kita, tetapi apa yang bisa kita berikan kepada negara. Prinsip itu yang saya pegang sampai sekarang,” kata pria kelahiran lahir di 11 Maret 1963 tersebut.