TRIBUNTRENDS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akhirnya buka suara terkait situasi di Selat Hormuz yang kian memanas.
Di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menutup sepenuhnya jalur strategis tersebut, setidaknya bagi negara-negara yang dianggap sahabat.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyebutkan bahwa kapal-kapal dari lima negara tetap diizinkan melintas dengan aman.
Selain India, negara lain yang dimaksud adalah Rusia, China, Pakistan, dan Irak.
Mereka masih bisa melalui selat sempit yang kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam dinamika geopolitik global.
Ia pun menekankan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup total.
Baca juga: Kapal Induk Amerika USS Gerald R Ford Mundur Setelah Dirudal Iran, Kini Jadi Bahan Ejekan Teheran
Iran, menurutnya, masih memberikan akses bagi negara-negara yang memiliki hubungan baik.
“Banyak pemilik kapal atau negara asal kapal tersebut telah menghubungi kami dan meminta jaminan keselamatan saat melintasi selat. Untuk negara-negara yang kami anggap sahabat, atau dalam kondisi tertentu, angkatan bersenjata kami memberikan jalur aman,” ujar Araghchi, merujuk pada siaran televisi pemerintah.
Lebih lanjut, Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi intens terus dilakukan dengan sejumlah negara terkait akses pelayaran di kawasan tersebut.
Koordinasi ini, kata dia, tidak hanya berlangsung saat ini, tetapi juga diperkirakan akan berlanjut.
Namun, sikap Iran berbeda terhadap negara yang dianggap sebagai lawan.
Araghchi menegaskan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Teluk yang terlibat dalam konflik tidak akan diizinkan melintas.
“Kami berada dalam kondisi perang. Kawasan ini adalah zona perang, sehingga tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal dari musuh dan sekutunya melintas. Namun, jalur ini tetap terbuka bagi negara lain,” tegas Araghchi.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap posisi Iran yang semakin kuat dalam mengendalikan Selat Hormuz.
Bahkan, menurutnya, kontrol tersebut kini lebih solid dibandingkan sebelumnya.
Araghchi juga menyinggung respons awal dunia internasional ketika Iran pertama kali mengumumkan blokade parsial.
Saat itu, banyak pihak meragukan langkah tersebut dan menganggapnya sekadar gertakan.
Kini, ia menilai situasinya telah berubah dan menunjukkan realitas yang berbeda.
Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Dilarang Lewati Selat Hormuz, Kemlu RI Lobi Otoritas Iran
“Mereka mengira Iran tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Namun kami membuktikannya dengan kekuatan. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan langkah ini, tetapi gagal. Bahkan, mereka meminta bantuan negara lain, termasuk yang dianggap musuh, untuk membuka kembali jalur ini. Namun tidak ada yang merespons, karena hal itu memang tidak memungkinkan,” pungkasnya.
Selat itu menjadi rute 20 persen pasokan minyak dunia sehingga penutupan ini memicu lonjakan harga energi, mengancam rantai pasok global, dan melemahkan mata uang seperti rupiah.
Penutupan dilakukan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai respons terhadap serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel, yang juga menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran.
Akibatnya, sekitar 15-20 persen distribusi minyak global terhenti, memaksa kapal tanker berisiko jika melintasi perairan tersebut sehingga memicu kenaikan harga minyak mentah global diprediksi mencapai level tertinggi, memicu inflasi dan mengganggu pasar saham global.
AS dilaporkan menyiapkan pasukan untuk membebaskan jalur tersebut, sementara Iran mengancam akan menyerang kapal yang nekat melintas.
(TribunTrends/Tribunnews)