Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS, Eskalasi Konflik Timur Tengah Meningkat
Muliadi Gani March 26, 2026 04:54 PM

 

PROHABA.CO -  Iran menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perang di Timur Tengah dan justru meningkatkan serangan ke Israel serta negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat dan menegaskan akan mengakhiri perang sesuai keputusan serta syarat yang ditetapkannya sendiri. 

Penolakan ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan, ketika Iran melancarkan serangan lanjutan ke Israel dan negara-negara Teluk Arab.

Salah satu serangan bahkan memicu kebakaran besar di Bandara Internasional Kuwait, sementara Israel dilaporkan melakukan serangan udara ke Teheran.

Amerika Serikat merespons dengan mengerahkan pasukan tambahan ke Timur Tengah, termasuk pasukan terjun payung dan Marinir.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang.

“Kami tidak melakukan negosiasi apa pun dan tidak memiliki rencana untuk itu,” ujarnya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan, pertukaran pesan melalui mediator tidak dapat diartikan sebagai proses negosiasi dengan Washington.

“Pesan yang disampaikan berisi sejumlah gagasan dan telah diteruskan kepada otoritas tertinggi. Jika diperlukan, posisi resmi akan diumumkan,” katanya.

Meski demikian, pernyataan tersebut dinilai membuka peluang terbatas bagi Iran untuk mempertimbangkan jalur diplomasi, meskipun sebelumnya para pejabatnya secara tegas menolak perundingan dengan AS.

Baca juga: Israel Serang Fasilitas Gas Utama Iran di Bushehr, Koordinasi dengan AS

Iran Ajukan Syarat Tandingan

Meski menolak proposal AS, laporan Press TV menyebut Teheran menyiapkan tawaran tandingan.

Dalam proposal itu, Iran mengajukan lima poin, termasuk penghentian penargetan terhadap para pemimpin serta tuntutan pembayaran reparasi.

“Iran akan mengakhiri perang ketika memutuskan sendiri dan ketika syarat-syaratnya terpenuhi,” demikian kutipan pernyataan pejabat anonim.

Iran juga menegaskan akan terus melancarkan “pukulan berat” di berbagai wilayah Timur Tengah.

Pejabat pertahanan Israel meragukan Iran akan menyetujui persyaratan tersebut.

Israel menginginkan agar kesepakatan apa pun tetap memberi ruang untuk melakukan serangan pre-emptive.

Sementara itu, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengklaim lebih dari 10.000 target di Iran telah diserang.

Ia menyebut sekitar 92 persen kapal perang utama Iran telah dihancurkan, sementara kapasitas peluncuran drone dan rudal menurun lebih dari 90 persen.

Baca juga: Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib Tewas dalam Serangan Israel, Teheran Janji Balasan Lebih Kuat

Proposal Amerika Serikat

Proposal AS sebelumnya disampaikan kepada Iran melalui Pakistan.

Dua pejabat Pakistan menyebut rencana tersebut mencakup 15 poin, termasuk pelonggaran sanksi, pembatasan program nuklir Iran, pembatasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz --jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. 

Seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam mediasi menambahkan, proposal itu juga mencakup pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.

Gedung Putih menyatakan komunikasi dengan Iran masih berlangsung.

Sekretaris pers Karoline Leavitt mengatakan pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif.

Namun, ia mengingatkan bahwa jika jalur diplomasi gagal, Presiden Donald Trump siap mengambil langkah lebih keras.

“Jika pembicaraan tidak berhasil, Presiden akan memastikan respons yang jauh lebih kuat dari sebelumnya,” kata Leavitt.

Potensi Front Baru

Media Iran menyebut Teheran berpotensi membuka front baru di Selat Bab al-Mandab-- jalur strategis antara Yaman dan Djibouti-- jika serangan terhadap wilayahnya terus berlanjut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan memperingatkan bahwa negaranya akan menyerang negara tetangga yang bekerja sama dengan musuh.

Sejak dimulainya operasi militer AS bertajuk Operation Epic Fury, Iran dilaporkan menyerang negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS serta menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Peringatan PBB

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan dunia berada di ambang konflik yang lebih luas.

“Sudah saatnya berhenti menaiki tangga eskalasi dan mulai menaiki tangga diplomasi,” ujarnya di markas besar PBB, New York.

Dengan penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata AS, situasi di Timur Tengah semakin kompleks.

Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu konflik regional yang lebih besar, dengan dampak langsung terhadap stabilitas global, terutama sektor energi.

Baca juga: Israel Butuh Dana Besar Capai 14 Kuadriliun untuk Beli Senjata Tambahan Dalam Perang Melawan Iran

Baca juga: Iran Buru 11.000 Tentara Amerika di Timur Tengah, Warga Diminta Laporkan Keberadaan Mereka

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.