TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memasuki era digital yang kian melesat, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Yogyakarta dituntut meninggalkan pola pemasaran konvensional.
Tak lagi cukup hanya menunggu pembeli datang ke toko atau mengandalkan sistem door-to-door, visualisasi produk dan branding kini menjadi kunci utama agar bisa bertahan di pasar.
Fenomena tersebut mengemuka dalam agenda pelatihan dan pendampingan bertajuk "Visual vs Branding: Strategi Pemasaran Produk UMKM" yang digelar PT BPR Bank Jogja (Perseroda), Kamis (26/3/2026).
Kepala Bidang UMK Dinas Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Yogyakarta, Bebasari Sitarini, menyampaikan, dari 24.124 UMKM yang telah terverifikasi di wilayahnya, baru sekitar 50 persen yang sudah memaksimalkan potensi digital.
"Pentingnya branding, visualisasi, dan desain itu sangat vital. Minimal dengan branding, teman-teman UMKM bisa mengenalkan produk ke masyarakat luas, sebagai bentuk identitas dan pembeda. Itu yang menumbuhkan kepercayaan konsumen," ujarnya.
Meski demikian, Sita tak menampik adanya kendala di lapangan, terutama terkait fenomena 'gaptek' atau gagap teknologi di kalangan pelaku usaha yang sudah berusia lanjut.
Ia menyebut, banyak pelaku UMKM yang menginginkan hasil instan namun enggan berproses dengan kerumitan platform digital, sehingga dibutuhkan pendampingan.
Dalam kurun beberapa waktu terakhir, pihaknya pun intensif berkolaborasi dengan mahasiswa KKN, hingga institusi pendidikan seperti STSRD (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain) Visi Indonesia.
Dengan sinergi antara edukasi visual dan dukungan finansial dari Bank Jogja, diharapkan UMKM di Kota Pelajar tidak lagi 'ketinggalan kereta' dan mampu mandiri di tengah gempuran pasar global.
"Kami sering sampaikan, kalau ibunya mungkin terbatas (teknologi), ajak putranya atau tetangga yang Gen-Z untuk membantu. Karena jualan di marketplace atau media sosial seperti TikTok itu butuh konsistensi. Sekali kita tidak live atau telat membalas pesanan, pelanggan bisa lari," tambahnya.
Baca juga: Sekda DIY Soroti Semrawutnya Parkir Liar di Badan Jalan Selama Libur Lebaran
Senada, Direktur Operasional dan Bisnis PT BPR Bank Jogja (Perseroda), Heri Sutanto, menegaskan komitmen untuk tidak hanya menjadi penyedia modal, tetapi juga pendamping bagi pertumbuhan UMKM.
Menurutnya, visualisasi produk yang eye-catching adalah gerbang utama ketertarikan konsumen yang dewasa ini semakin terpaku oleh tren di media sosial.
"Pertama tentu visual, bagaimana agar produk seperti snack, batik, atau kerajinan bisa ter-delivery secara menarik ke calon konsumen. Setelah itu diperkuat dengan branding agar orang teringat terus dengan produknya," katanya.
Sebagai bentuk dukungan, Bank Jogja menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp270 miliar pada tahun 2026, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp240 miliar.
Dana tersebut disiapkan untuk seluruh lapisan masyarakat, termasuk mendukung program unggulan yang dicanangkan Wali Kota Hasto Wardoyo, seperti Warung Milik Rakyat (Wamira).
"Kita tidak hanya memberikan kredit, tapi juga pendampingan. Kami terjun langsung ke wilayah-wilayah, mulai dari Mantrijeron hingga Kotagede, untuk memastikan UMKM kita benar-benar siap bersaing di pasar digital," pungkasnya. (*)