TRIBUNTRENDS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump sesumbar rakyat Iran ingin menjadikannya pemimpin tertinggi menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.
Pernyataan itu ia ungkapkan ketika menghadiri acara penggalangan dana tahunan Komite Kongres Republik Nasional (NRCC) di Washington pada Rabu (25/3/2026) malam waktu setempat.
Pada kesempatan itu, Trump menyatakan sejumlah pemimpin di Teheran mengungkapkan gagasan secara informal untuk menjadikan Trump sebagai pemimpin tertinggi.
Namun Trump mengaku telah menolaknya secara halus.
“Tidak pernah ada kepala negara yang menginginkan jabatan itu lebih sedikit daripada saya. Kami mendengar mereka dengan sangat jelas. Mereka berkata, ‘Kami ingin menjadikan Anda pemimpin tertinggi berikutnya.’ Tidak, terima kasih. Saya tidak menginginkannya,” kata Trump.
Apa sebenarnya alasan Amerika Serikat mendadak getol kejar upaya damai dengan Iran? Ini spekulasi yang muncul soal tindakan Donald Trump.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump menunjukkan sikap yang kontradiktif.
Di satu sisi ia menyebut adanya upaya negosiasi dengan Iran untuk mencapai perdamaian, namun di sisi lain ia juga mengirim pasukan darat ke Iran.
Pada Selasa (24/3/2026), Trump menunjukkan pendekatan yang membingungkan.
Pentagon memerintahkan pengiriman pasukan darat di saat negosiator AS mengirim proposal perdamaian ke Iran.
Sehari kemudian, Gedung Putih mendesak Iran menerima proposal tersebut sambil melontarkan ancaman keras.
Baca juga: Kapal dari 5 Negara Diizinkan Melintas dengan Aman di Selat Hormuz, Punya Hubungan Baik dengan Iran
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan, “Presiden Trump tidak menggertak, dan ia siap melepaskan neraka.”
“Iran tidak boleh salah perhitungan lagi.”
Namun Iran langsung menolak proposal tersebut, memicu pertanyaan apakah kedua negara benar-benar sedang menjalankan diplomasi serius.
Sejumlah pejabat lama AS dan sekutu Gedung Putih menyebut ada kekhawatiran internal bahwa Trump belum memiliki rencana konkret.
“Banyak yang merasa tidak nyaman karena jelas Trump belum memikirkan semua ini secara matang,” kata seorang mantan pejabat senior pemerintahan Trump yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini semakin rumit karena konflik telah mengguncang Timur Tengah, memengaruhi ekonomi global, dan memecah Partai Republik menjadi dua kubu.
Selat Hormuz masih belum “aman”
Salah satu tantangan terbesar adalah mengamankan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.
Hingga lebih dari tiga minggu perang berlangsung, AS belum menemukan cara menghentikan serangan Iran terhadap kapal komersial di wilayah tersebut.
Stephen Hadley mengatakan, “Masalah bagi presiden adalah Selat Hormuz. Jika dia membiarkannya di tangan Iran, akan sulit baginya mengklaim kemenangan.”
Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Dilarang Lewati Selat Hormuz, Kemlu RI Lobi Otoritas Iran
Ia juga menambahkan bahwa kurangnya konsultasi dengan negara lain membuat AS kesulitan mendapatkan dukungan sekutu.
AS disebut mengirim lebih dari 1.000 pasukan lintas udara dari Divisi 82 untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Beberapa analis menilai langkah ini bisa memberi manfaat lebih besar.
Mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Miad Maleki, mengatakan, “Pengiriman pasukan darat akan memberi AS pengaruh besar dan kontrol lebih baik atas Selat Hormuz.”
Namun ia juga mengingatkan risikonya meningkat. Sementara itu, mantan pejabat pertahanan AS, Jason Campbell, menilai langkah tersebut justru menunjukkan ketiadaan strategi.
“Apa yang kita lihat bukan hasil rencana matang dengan tujuan jelas,” katanya.
“Ini lebih mirip permainan spontan: unit mana yang tersedia sekarang?”
Dengan pendekatan yang berubah-ubah—antara ancaman militer dan tawaran damai—banyak pihak menilai kebijakan Trump lebih bersifat reaktif daripada strategis. (Tribun Trends/Tribunnews/Kompas.com)