TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Korwil Badan Gizi Nasional Kabupaten Tulungagung Sebrina Mahardika, mengakui pihaknya fokus meningkatkan kualitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 2026.
Hal ini untuk meningkatkan pelayanan dan menekan keluhan terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Tahun 2025 fokus kami memang pada kuantitas, pertumbuhan SPPG. Tahun 2026 ini naik level ke kualitas,” ujar Sebrina, Kamis (26/3/2026).
Peningkatan kualitas ini meliputi menu, sarana dan prasarana, serta pengawasan sumber daya manusia (SDM).
Pengadaan bahan baku juga akan ditekankan agar dikontrol dengan ketat.
Selama ini pasokan bahan baku sebagian besar diadakan oleh mitra SPPG.
“Kami tekankan agar bisa dikontrol . Jika jelek langsung tolak, jangan diterima,” ucap Sebrina.
Bahkan jika harga dari mitra terlalu tinggi, direkomendasikan cari penyuplai lain.
Pihak SPPG harus bisa mencari harga terbaik dengan kualitas terbaik.
BGN selama ini menekankan tidak boleh ada monopoli untuk pengadaan bahan baku ini.
Sebab itu penyuplai harus sebanyak mungkin, setidaknya 15 penyuplai di 1 SPPG.
Sebrina mengaku diminta untuk mengawasi SPPG yang masih menggunakan sedikit penyuplai.
“Sejauh ini masih ada temuan SPPG yang nota belanjanya 2 sampai 5,” tegasnya.
Baca juga: Bupati Nganjuk Berangkatkan 300 Peserta Program Balik Gratis, Langkah Tekan Risiko Kecelakaan
Saat ini ada 8 SPPG di Kabupaten Tulungagung yang dihentikan sementara (suspend).
Dari 8 SPPG itu, 1 karena tidak punya pengawas gizi, 4 terkait kasus keracunan
SPPG yang dihentikan sementara masih dalam proses perbaikan sesuai rekomendasi dari Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Suspend ini hasil dari monev (monitoring dan evaluasi) serta self asesmen dari kepala SPPG,” ungkap Sebrina.
Temuan SPPG antara lain belum punya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), tidak tersedia filter air, tidak punya tandon air, dekat kandang, dan menggunakan air galon isi ulang.
BGN menyarankan setiap SPPG menggunakan air yang sudah punya Standar Nasional Indonesia (SNI).
Saat ini sudah ada 116 SPPG yang beroperasi di Kabupaten Tulungagung, termasuk 8 yang kena suspend.
Saat ditanya sekolah yang menolak MBG, Sebrina mengatakan, program ii tidak boleh dipaksakan.
Namun sikap sekolah yang menolak di hari itu, Sebrina mengaku belum bisa menjawab.
“Yang pasti akan mubazir, karena sudah terlanjur dimasak. Menu itu tetap dibayarkan, karena jauh-jauh hari sudah dibelanjakan,” tandasnya.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik