BANGKAPOS.COM - Berikut profil dan sosok Selamat Ginting yang sorot kabar mundurnya Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Yudi Abrimantyo.
Ia menilai hal itu sebagai bagian dari pola umum dalam penanganan krisis di tubuh organisasi militer.
Pengunduran diri Letjen Yudi terjadi setelah empat anggota BAIS TNI diamankan terkait kasus penyiraman terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Aulia Dwi Nasrullah, menyebut penyerahan jabatan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban institusi.
Baca juga: Video: Hidayat Arsani Serahkan Bantuan Sumur Bor Lapas Kelas II A Pangkalpinang
Selamat Ginting memandang langkah itu sebagai refleksi dari pola klasik dalam manajemen krisis militer, yakni upaya sentralisasi kendali guna mempercepat stabilisasi organisasi.
Dalam pandangannya, setiap pelanggaran yang dilakukan personel tidak pernah dilihat sebagai kasus individu semata, melainkan berpotensi memengaruhi rantai komando, soliditas satuan, hingga keamanan informasi strategis.
Ia menilai, pengambilalihan kendali di level pimpinan tertinggi menunjukkan bahwa kasus ini dianggap serius oleh institusi.
“Langkah ini bisa dibaca sebagai upaya sterilisasi organisasi, membersihkan potensi residu konflik di dalam tubuh BAIS agar stabilitas tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut Selamat, kebijakan tersebut juga penting untuk mencegah munculnya friksi internal maupun loyalitas ganda yang berpotensi menghambat proses investigasi dan penegakan hukum.
Di sisi lain, ia melihat keputusan itu tidak lepas dari pertimbangan politik yang matang.
Dalam konteks Indonesia, kasus penyiraman air keras dinilai memiliki dampak emosional yang besar di tengah masyarakat.
Terlebih, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meminta Mabes TNI untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut.
“TNI berusaha mengirim pesan bahwa institusi tidak mentolerir pelanggaran, bahkan jika itu melibatkan unit strategis sekalipun,” jelas Selamat.
Ia menambahkan, langkah tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya preventif untuk menghindari politisasi kasus di ruang publik.
Dalam sistem demokrasi, kasus yang melibatkan aparat bersenjata kerap menjadi bahan tarik-menarik kepentingan politik, baik untuk mengkritik peran militer maupun mengangkat kembali isu masa lalu.
Lantas siapa sebenarnya Selamat Ginting?
Terkait profilnya, Selamat Ginting dikenal sebagai pengamat politik dan militer yang aktif memberikan analisis terhadap dinamika nasional.
Ia kerap tampil di berbagai media, forum diskusi, hingga platform digital untuk membahas isu kebijakan pemerintah, hubungan sipil-militer, hingga arah demokrasi di Indonesia.
Pandangan-pandangannya sering dijadikan rujukan karena dinilai tajam, kritis, serta didasarkan pada pengalaman panjang dalam mengikuti perkembangan politik nasional. Selain itu, latar belakangnya sebagai akademisi dan mantan jurnalis turut membentuk gaya analisis yang historis dan kontekstual.
Dalam berbagai kesempatan, Selamat juga dikenal vokal dalam mengkritisi praktik politik yang dianggap berpotensi melemahkan demokrasi.
Isu seperti intervensi terhadap partai politik, konsolidasi kekuasaan, hingga dinamika pasca-pemilu kerap menjadi sorotan dalam analisanya.
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan terkadang kontroversial, Selamat Ginting menjadi salah satu pengamat independen yang cukup sering dikutip media.
Kehadirannya dinilai memberi warna dalam diskursus publik, khususnya dalam membaca arah kekuasaan dan tantangan demokrasi Indonesia ke depan.
(Surya.co.id/Kompas.com/Bangkapos.com)