Ribuan Warga Jepara Antusias Melihat Arak-arakan Kerbau Bule Sejauh 1,1 Km, Arini Dibuat Terpesona
muslimah March 27, 2026 05:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Tradisi budaya Pesta Lomban Larungan Kepala Kerbau pada momentum Lebaran Ketupat (Syawal) 1447 H/2026 di Kabupaten Jepara digelar besok, Sabtu (28/3/2026).

Kepala kerbau yang disiapkan sebagai sesajen larungan tahun ini dipilih dari kerbau jenis bule dengan berat lebih dari 350 kilogram.

Kerbau tersebut dibeli dari petinggi di Kabupaten Jepara dengan harga Rp 50 juta.

Sebelum pelaksanaan Pesta Lomban dimulai, kerbau tersebut diarak sejauh 1,1 kilometer dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto pada, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Sosok Agus Mardiko Perajin Miniatur Kapal Larungan di Jepara, Ada Ritual Sehari Puasa

TPI Ujungbatu sejak pukul 06.00 WIB sudah dipadati ribuan warga jepara.

Selain adanya aktivitas jual beli ikan hasil tangkapan nelayan, TPI tersebut disulap seperti lokasi festival.

Kerbau bule dilepas dan diarak mengelilingi perkampungan penduduk hingga ke titik finish di RPH Jobokuto.

Sepanjang jalan dengan jarak tempuh sekitar 1,1 kilometer, dipadati oleh masyarakat yang penasaran melihat sosok kerbau yang nantinya diambil kepalanya dijadikan sesajen pelarungan. Apalagi kerbau yang dipilih tahun ini merupakan jenis kerbau bule yang gagah dan bersih.

Satu di antara warga, Arini Khoiriyah (35) terlihat antusias mengabadikan arak-arakan dengan gadgetnya.

Dia datang bersama anaknya sengaja untuk melihat langsung bagaimana festival arak-arakan kerbau Pesta Lomban tahun ini digelar.

Mengingat arak-arakan ini sempat vakum dalam beberapa tahun terakhir, dan kini kembali dihidupkan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara.

"Dengar-dengar kerbaunya beda dari tahun-tahun sebelumnya, katanya kerbau bule. Dan ternyata benar, warnanya lebih cerah seperti kerbau Eropa, bersih dan terlihat gagah," terangnya.

Arini pun berhasil mengabadikan kerbau bule tersebut yang diarak oleh bupati, wakil bupati, jajaran forkopimda Jepara dan para pejabat di Kabupaten Jepara.

Bagi dia, melihat langsung proses arak-arakan kerbau sudah cukup menjawab rasa penasarannya terkait sosok hewan kerbau yang akan dijadikan larungan pada Pesta Lomban tahun ini.

"Dari kemarin sudah tersiar kabar kerbaunya bule, harganya juga mahal. Kan jadi penasaran, dan ternyata bagus juga," ujar dia.

Arak-arakan kerbau Pesta Lomban menjadi magnet baru dalam rangka nguri-uri budaya Syawalan di Kabupaten Jepara.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo menuturkan, Kirab Kerbau Pesta Lomban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat di pesisir Jepara.

Sebuah tradisi yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara yang kembali dihidupkan.

Kata dia, kerbau bule yang dipilih dalam kirab tahun ini memiliki filosofi tersendiri. Artinya ada hal baru dan semangat baru bagi pemerintah daerah bersama masyarakat Jepara untuk bangkit dan lebih makmur lagi. Utamanya bagi nelayan-nelayan di Kabupaten Jepara.

Mas Wiwit menyebut kirab budaya ini juga sebagai simbol keterbukaan dan kejujuran kepada masyarakat. Bahwa kerbau yang akan dilarung adalah utuh, bukan hanya kepalanya.

Meski dalam pelaksanaan pelarungan Pesta Lomban, hanya kepala kerbau yang dilarung ke laut. Sementara dagingnya dimasak untuk dimakan bersama.

"Ini sekaligus menjawab pemahaman yang berkembang di masyarakat, serta menjaga nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan leluhur secara turun-temurun," jelasnya.

Semangat Baru

Diketahui bahwa Kirab Kerbau Pesta Lomban terakhir kali digelar pada 2019 lalu. Kini kembali diadakan sebagai semangat baru bahwa masyarakat Jepara antusias melestarikan setiap budaya yang dimiliki agar tidak hilang.

Mas Wiwit berkomitmen untuk terus mengembangkan tradisi ini agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Termasuk magnet bagi wisatawan agar menghidupkan pariwisata di Kabupaten Jepara.

"Mari jaga bersama setiap tradisi yang ada dengan penuh kesadaran, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur agar tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Ali Hidayat menambahkan, tradisi Kirab Kerbau Pesta Lomban adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rizki dari laut. Sekaligus doa agar masyarakat Jepara, khususnya para nelayan, selalu diberikan keselamatan dan keberkahan. Serta memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum.

Kata dia, setelah kerbau diarak, kemudian dilakukan pemotongan di RPH. Kepala kerbau dijadikan sebagai sesajen dalam tradisi pelarungan Pesta Lomban. Sedangkan daging kerbau dimasak pindang kerbau untuk dimakan bersama-sama saat pagelaran wayang Jumat malam di TPI Ujungbatu.

"Hari ini kirab kerbau berlangsung lancar, dan semoga besok pelarungan Tradisi Lomban juga lancar," harap dia. (Sam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.