TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Bagi sebagian anak muda, menemukan jati diri bukanlah proses yang instan. Ada yang harus mencoba berbagai hal, jatuh, bangkit, hingga akhirnya memahami arah hidupnya.
Hal itulah yang dijalani Devina Zulkifli, mahasiswi asal Tanjungbalai yang kini menapaki proses eksplorasi diri lewat beragam pengalaman.
Tumbuh di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Devina menjalani masa kecil yang sederhana. Tidak ada pusat perbelanjaan besar atau gedung-gedung tinggi. Namun dari tempat itulah ia mulai membangun keberanian untuk bermimpi lebih jauh.
“Di Tanjungbalai aku tumbuh. Dari situ juga aku mulai berani untuk keluar dan mencoba hal baru,” ujarnya.
Sejak kecil, kehidupan Devina tidak selalu mudah. Ia kehilangan sosok ayah saat masih duduk di bangku kelas 5 SD. Kepergian sang ayah membuat keluarganya harus beradaptasi dengan kondisi baru. Ibunya yang sebelumnya tidak bekerja, harus menjadi tulang punggung keluarga.
Demi mencukupi kebutuhan empat anaknya, sang ibu bahkan merantau ke Malaysia. Sejak saat itu, Devina dan saudara-saudaranya terbiasa menjalani hidup dengan mandiri.
“Kami tidak terbiasa dengan kata-kata motivasi, tapi dari keadaan kami belajar bahwa hidup tidak selalu ada yang menemani,” katanya.
Nilai kemandirian itu kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.
Tantangan kembali datang saat Devina lulus sekolah. Ia harus menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan ekonomi.
Di saat teman-temannya mulai menjalani kehidupan kampus, Devina justru harus bekerja dan menunggu kesempatan.
Masa gap year itu menjadi salah satu fase terberat baginya. Namun di sisi lain, pengalaman tersebut membentuk mental yang lebih kuat.
“Aku sedih melihat teman-teman sudah kuliah. Tapi dari situ aku belajar bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing,” ujarnya.
Dari Pilihan Terakhir Menjadi Jalan Terbaik
Awalnya, Devina bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara atau Universitas Brawijaya dengan jurusan Hubungan Internasional.
Namun keterbatasan membawanya ke Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dengan jurusan Ilmu Komunikasi pilihan yang awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir.
Di luar dugaan, keputusan itu justru membuka banyak peluang. Ia menemukan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun pribadi.
Kesadaran akan kondisi ekonomi membuat Devina aktif mencari beasiswa. Ia sempat mencoba beberapa program seperti Baznas dan Kafala UPZ, namun belum berhasil.
Kegagalan itu sempat membuatnya hampir menyerah.
Namun ia memilih mencoba sekali lagi melalui Karya Salemba Empat (KSE). Tanpa ekspektasi tinggi, ia menyelesaikan proses pendaftaran dengan sederhana.
Tak disangka, ia lolos hingga tahap akhir dan resmi menjadi penerima beasiswa.
“Di situ aku belajar, ketika kita sudah berusaha dan menyerahkan hasilnya, Allah yang akan memudahkan,” katanya.
Bergabung dengan KSE menjadi titik penting dalam hidup Devina. Ia tidak hanya mendapatkan bantuan finansial, tetapi juga lingkungan yang suportif.
Ia menemukan teman, tempat berbagi cerita, hingga sosok yang mengisi kekosongan emosional dalam hidupnya.
“Rasanya seperti punya keluarga baru. Lingkungannya benar-benar baik,” ujarnya.
Eksplorasi Diri Lewat Beragam Peran
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Devina aktif mengeksplorasi dirinya melalui berbagai aktivitas. Ia tergabung dalam organisasi media kampus Share NTV dan dipercaya sebagai produser podcast.
Dari peran ini, ia belajar membangun relasi, mengatur tim, serta bertanggung jawab terhadap sebuah produksi.
“Yang paling terasa itu networking. Aku belajar ngobrol dengan banyak orang dari berbagai latar belakang,” katanya.
Selain itu, ia juga aktif sebagai tutor bahasa Inggris sejak 2023. Dari pengalaman mengajar, ia menemukan makna kedekatan yang tidak terduga.
“Aku jadi tahu, ternyata kita bisa sayang sekali sama siswa, seperti keluarga sendiri,” ujarnya.
Tak hanya itu, Devina juga mencoba hal baru sebagai MC. Meski awalnya tidak percaya diri, ia berani menerima tantangan tersebut.
Dengan latihan yang konsisten, ia akhirnya mampu melewati rasa gugup dan mulai menikmati prosesnya.
“Kadang kita harus coba dulu, baru tahu ternyata kita bisa,” katanya.
Menemukan Makna Komunikasi yang Lebih Luas
Eksplorasi Devina tidak berhenti di dunia akademik dan organisasi. Ia juga aktif mengikuti kegiatan volunteer, termasuk bersama teman-teman disabilitas.
Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa komunikasi tidak hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang memahami orang lain, termasuk melalui bahasa isyarat.
“Dari situ aku sadar, komunikasi itu luas sekali,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya, Devina gemar membaca novel, terutama yang membahas perasaan dan filsafat seperti stoicism. Salah satu buku yang membekas baginya adalah Ronggeng Dukuh Paruk.
Dari tokoh Srintil, ia belajar tentang realitas perempuan yang tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Hal itu menumbuhkan keinginannya untuk suatu hari menyuarakan isu perempuan dan anak.
Ke depan, Devina memiliki mimpi untuk melakukan solo traveling menjelajah berbagai tempat, bertemu banyak orang, dan memperluas perspektif hidup.
Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang materi, tetapi tentang hati yang penuh kasih, kesempatan untuk belajar, dan kemampuan menjalani hidup sesuai nilai yang diyakini.
Melalui perjalanannya, Devina berpesan kepada anak muda untuk terus berani mencoba dan tidak takut menghadapi proses.
“Terus berjuang. Kalau ada masalah, serahkan kepada Allah. Kita jalani saja, nanti akan ada jalannya,” tutupnya.
(cr26/tribun-medan.com)