TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kualitas pendidikan pariwisata di DIY tak lagi dipandang sebelah mata di kancah internasional.
Beberapa negara bahkan menawarkan diri untuk bekerjasama melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang handal di bidang kepariwisataan.
Hal ini diakui Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta, Suhendroyono.
Dia mengatakan setiap tahun, beberapa universitas dari berbagai negara tertarik untuk bekerjasama dengan kampusnya.
Peluang itu menjadi bukti pengakuan global terhadap kualitas pendidikan pariwisata yang dikembangkan kampusnya.
"Tahun 2026 kami hendak menjadi terdepan di Asia. Ini sudah terlihat buktinya. Kami diminta Universiti Putra Malaysia untuk membuka cabang di Malaka untuk Fakultas Pariwisata," ungkap Suhendroyono, di sela agenda Halal bi Halal, Jumat (27/3/2027) siang.
Selain dari Malaysia, STIPRAM juga mendapat permintaan serupa dari Universitas Sorong untuk membuka fakultas pariwisata di Sorong Papua.
Tidak hanya itu, peluang ekspansi juga datang dari Singapura serta James Cook University di Australia.
Menurut Suhendroyono, langkah ekspansi ini bukan hal mudah karena membutuhkan kapital cukup besar.
Namun pihaknya optimistis dapat merealisasikannya melalui kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan di luar negeri.
"Ini tentu tak mudah, namun kami siap untuk berkolaborasi. Pengakuan keilmuan datang dari luar negeri, bukan karena sendiri," tegasnya.
Baca juga: H+6 Lebaran 2026, Volume Naik dan Turun di KAI Daop 6 Yogyakarta Capai 65.254 Penumpang
Lebih lanjut, dia menjelaskan STIPRAM selama ini aktif menjalin kerja sama internasional, khususnya dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Beberapa negara yang telah menjadi mitra antara lain Thailand, Filipina dan Jepang.
Dalam program tersebut, mahasiswa STIPRAM dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman langsung di sektor pariwisata global, sebaliknya negara-negara tersebut juga mengirimkan mahasiswanya ke Jogja.
Menurutnya, pengalaman internasional menjadi nilai tambah penting bagi mahasiswa di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
"Kami kirim mahasiswa ke luar negeri, bukan hanya di dalam negeri. Ini memberikan pengalaman lebih bagi mahasiswa kami," ujarnya.
Dia menambahkan, pengakuan terhadap ilmu pariwisata di luar negeri yang lebih dahulu berkembang menjadi salah satu faktor pendorong STIPRAM untuk terus berinovasi dan memperluas jejaring internasional.
"Ilmu pariwisata di luar negeri sudah diakui lebih dahulu daripada di dalam negeri. Ini yang membuat kami bergerak terus," tutupnya. (*)