Rupiah Melemah, Harga Pangan di Tingkat Konsumen Bisa Melonjak, Ini Pesan Akademisi UGM
Yoseph Hary W March 28, 2026 01:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada stabilitas harga pangan. Hal itu diungkap oleh Dosen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Dr Hani Perwitasari, S.P., M.Sc.

Akademisi UGM ini pun memperingatkan pemerintah agar melakukan pengendalian harga di tengah pelemahan rupiah.

Ia mengatakan, terlebih Indonesia bergantung pada impor sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, dan bawang putih.

Dampak terhadap harga pangan

Apabila nilai tukar melemah, biaya impor bahan pangan otomatis meningkat dan input produksi juga berpotensi meningkat, sehingga berdampak pada harga di tingkat konsumen.

Seberapa besar pengaruh pelemahan rupiah terhadap harga pangan sangat bergantung pada jenis komoditas. Ketersediaan pasokan juga memainkan peran penting. 

"Komoditas dengan pasokan yang cukup cenderung lebih stabil meskipun terjadi tekanan kurs. Sebaliknya, keterbatasan pasokan dapat memperbesar potensi kenaikan harga di tingkat konsumen," katanya, Jumat (27/3/2026).

 “Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” sambungnya.

Impor, sistem pangan rentan

Hani menilai produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi pilihan untuk menjaga pasokan.

Ketergantungan impor membuat sistem pangan lebih rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar.

"Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” terangnya.

Ada beberapa komoditas yang paling rentan terhadap perubahan kurs, seperti telur dan susu.

Kedua komoditas tersebut sulit disubstitusi.

Langkah pengendalian Harga

Dalam jangka pendek, langkah pengendalian harga menjadi penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah.

Pemerintah perlu memastikan ketersediaan data yang akurat terkait produksi dan kebutuhan pangan nasional. 

Monitoring yang baik akan membantu dalam menentukan kebijakan yang tepat, termasuk keputusan impor ketika pasokan kurang. 

Upaya jangka pendek tersebut perlu diiringi strategi jangka panjang untuk memperkuat produksi pangan domestik. 

Ia juga menekankan pentingnya dukungan terhadap petani.

Sebab, petani menjadi kunci agar kapasitas produksi dapat meningkat secara berkelanjutan. 

"Akses terhadap pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan melalui asuransi pertanian perlu diperkuat. Stabilitas harga di tingkat petani juga penting agar kegiatan produksi tetap menarik secara ekonomi. Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” imbuhnya. (*/ maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.