TRUBUNJATENG.COM, JEPARA - Ribuan nelayan dan warga Jepara serentak mengiringi proses Larungan Kepala Kerbau pada tradisi Pesta Lomban Jumat (28/3/2026).
Tradisi tersebut merupakan sedekah laut oleh masyarakat pesisir Pantai Jepara yang digelar setiap tahun pada momentum H+7 Lebaran atau Syawalan.
Lautan Jepara disulap menjadi lautan kapal. Setidaknya ada 300-an kapal yang mengiringi langsung proses larungan kepala kerbau.
Baca juga: Barian Apem, Cara Warga Sukodono Jepara Sampaikan Syukur dan Maaf di Momentum Syawal
Baca juga: Ribuan Warga Jepara Antusias Melihat Arak-arakan Kerbau Bule Sejauh 1,1 Km, Arini Dibuat Terpesona
Terdiri dari 1 kapal utama berukuran cukup besar yang membawa miniatur kapal Joyo Samudro, di dalamnya mengangkut sesajen kepala kerbau untuk dilarung.
Kapal bergerak dari TPI Ujungbatu pukul 07.15 WIB diikuti dua kapal pengiring berukuran sama dan ratusan kapal nelayan yang ikut serta mengiringinya.
Setelah menempuh pelayaran selama kurang lebih 45 menit, sesajen kepala kerbau dilarungkan ke laut.
Seketika pengunjung menjeburkan diri ke laut untuk berebut kepala kerbau.
Miniatur kapal Joyo Samudro pun terbalik setelah menjadi target rebutan warga. Proses berebut larungan kepala kerbau pun pecah, kali ini didominasi oleh para pemuda Jepara yang berlangsung sekitar 10-15 menit.
Kepala kerbau yang berhasil didapatkan warga selanjutnya diangkut ke atas kapal nelayan dan dilarung kembali ke laut. Dengan harapan ngalap berkah bagi siapa saja yang bisa mendapatkan.
Larungan kepala kerbau bertajuk Pesta Lomban ini menjadi tradisi budaya bagi masyarakat pesisir Jepara yang diuri-uri setiap tahunnya.
Kepala kerbau difilosofikan sebagai simbol kebodohan yang dilarung atau dibuang ke laut. Dengan maksud agar masyarakat Jepara semakin bertambah pintar.
Selain itu, tradisi ini juga sebagai simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rizki masyarakat Jepara selama satu tahu terakhir 2025. Sekaligus berharap keberkahan dan limpahan rizki dari hasil laut satu tahun mendatang, utamanya bagi nelayan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Ali Hidayat mengatakan, tradisi Larungan Kepala Kerbau Pesta Lomban adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rizki dari laut. Sekaligus doa agar masyarakat Jepara, khususnya para nelayan, selalu diberikan keselamatan dan keberkahan. Serta memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum.
Kata dia, pelaksanaan tradisi kali ini diikuti sekitar 300-an kapal serentak. Peserta yang ikut melarung kepala kerbau tidak hanya dari nelayan saja, ada juga dari wisatawan domestik, wisatawan mancanegara, dan masyarakat secara umum.
"Hari ini pelaksanaan Larungan Kepala Kerbau Pesta Lomban berlangsung lancar dan meriah. Semoga pelaksanaan tradisi ini di tahun-tahun ke depan lebih meriah lagi," terang dia.
Kepala kerbau yang dipilih sebagai sesajen larungan diambil dari kerbau jenis bule berbobot sekitar 350 kilogram dengan harga Rp 50 juta.
Kerbau sebelumnya diarak dari TPI Ujungbatu ke RPH Jobokuto sejauh 1,1 kilometer, Jumat (27/3/2026) kemarin.
Selanjutnya kerbau dipotong, kepala kerbau dijadikan sebagai sesajen larungan, sementara daging kerbau dimasak pindang untuk disantap bersama saat pagelaran wayang.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menjelaskan, tradisi Larungan Kepala Kerbau Pesta Lomban ini wujud ekspresi budaya dan rasa syukur masyarakat Jepara.
Yaitu bersyukur atas limpahan rizki dari laut satu tahun yang telah berlalu, dan berharap rizki yang berkah untuk satu tahun ke depan.
Dengan pelaksanaan tradisi ini, diharapkan nelayan dapat rizki banyak berupa tangkapan ikan laut yang melimpah.
Mas Wiwit menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas saja. Namun juga semangat bersama dalam hal pembangunan infrastruktur daerah.
"Spiritualitas kita pasrahkan kepada Allah SWT, selanjutnya kita tinggal berusaha. Nelayan berusaha mencari rizki di laut, pemerintah daerah berupaya membangun infrastruktur dan pelayanan publik yang optimal," tuturnya.
Sebagai kepala daerah, Mas Wiwit berharap pelaksanaan tradisi Larungan Kepala Kerbau Pesta Lomban tahun depan digelar lebih meriah lagi.
Di mana bakal disediakan wahana dan pertunjukan air di dermaga penyeberangan kapal guna menambah daya tarik wisatawan. Tidak hanya wisatawan domestik saja, juga wisatawan mancanegara.
"Ini upaya melestarikan leluhur kita, yang senantiasa kita budayakan dan lestarikan. Bentuk syukur kita pada alam dan Allah SWT sudah diberikan rizki tahun lalu dan berharap rizki melimpah tahun depan," tegas dia.
Seorang nelayan, Khumaedi selalu mengikuti prosesi larungan Pesta Lomban setiap tahun. Dia berlayar dengan kapal miliknya yang biasa digunakan mencari ikan di laut.
Bagi dia, Larungan Kepala Kerbau Pesta Lomban selayaknya pestanya para nelayan.
Dengan tradisi tersebut, nelayan mengucap syukur atas hasil panen ikan laut yang sudah didapatkan, dan berharap berkah rizki selanjutnya.
"Selalu ikut setiap tradisi ini digelar. Hari ini bareng keluarga dan teman-teman nelayan lainnya," ucap dia.
Kawasan TPI Ujungbatu sebelumnya sudah dipadati ribuan pengunjung sejak pukul 05.30 WIB.
Mereka antusias ingin melihat bagaimana euforia pelaksanaan trdisisi budaya yang cukup besar di Kabupaten Jepara bernama Pesta Lomban.
Satu di antara pengunjung Kunarsih (41) rela datang sejak pagi buta hanya untuk melihat tradisi Pesta Lomban.
Bagi dia, Larungan Kerbau Pesta Lomban Jepara merupakan salah satu tradisi yang dinanti-nantikan masyarakat pada momentum Syawal.
Di mana dalam pelaksanaannya tidak pernah gagal, mampu menyedot puluhan ribu pengunjung dalam satu waktu.
"Senang bisa melihat langsung tradisi larungan. Sayangnya belum pernah ikut ke tengah laut lihat langsung pelarungan, semoga ke depan bisa mendapatkan kesempatan ikut berlayar," ujar dia.
Puncak Tradisi Pelarungan Kepala Kerbau Pesta Lomban 2026 di Jepara ditutup dengan Festival Kupat Lepet yang digelar di Pantai Kartini Jepara. (SAM)