TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Momen lebaran memang identik dengan aneka hidangan lezat penggugah selera. Mulai dari kue kering hingga makanan tinggi karbohidrat.
Namun di balik kenikmatan makanan tersebut, terdapat potensi peningkatan risiko diabetes yang cukup signifikan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Siloam Hospital Balikpapan, dr. Shelly Laksmisari, SpPD- FINASIM mengatakan, potensi terjadinya diabetes pasca-lebaran tak bisa dianggap sepele, terutama bagi mereka yang rentan.
Dr. Shelly membeberkan, terdapat beberapa yang masuk kategori pra-diabetes. Salah satunya, seseorang dengan kadar gula darah puasa di kisaran 100–125 mg/dL.
Baca juga: Balikpapan Peringati Diabetes Day, Pemkot Ajak Warga Lebih Waspada Penyakit dan Gaya Hidup
Selain itu, faktor riwayat genetik seperti memiliki orang tua atau saudara kandung penderita diabetes melitus juga meningkatkan risiko.
"Kelompok dengan berat badan berlebih atau overweight juga lebih rentan karena adanya gangguan fungsi insulin," jelasnya, Sabtu (28/3/2026).
Untuk itu, ia menyarankan agar masyarakat lebih ketat melakukan pemeriksaan kesehatan setelah Lebaran.
Salah satu indikator penting yang perlu diperiksa adalah kadar HbA1c, yang digunakan untuk menilai kemampuan pankreas dalam memproduksi insulin alami serta menentukan apakah seseorang masuk kategori diabetes atau tidak.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, makanan khas Lebaran menjadi salah satu pemicu utama lonjakan gula darah.
Baca juga: Penyakit Tidak Menular Meningkat di Balikpapan, Harap Waspada Hipertensi dan Diabetes
Sebab, tak hanya makanan manis, makanan dengan kandungan karbohidrat sederhana juga berpotensi meningkatkan kadar gula.
"Makanan seperti nasi putih, roti, tepung-tepungan, kue kering, dan cake meskipun tidak selalu terasa manis, tetap bisa memicu kenaikan gula darah," ungkapnya. (*)