TRIBUNJATIM.COM - Pernikahan pria India dan wanita Purbalingga ini menarik perhatian warga.
Adalah Gursewak Singh (29), warga asli Punjab, India yang menikahi Ambarwati, warga Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga, Jawa Tengah.
Senyum lebar terkembang dari bibir Gursewak saat mendengar pekik “sah” dari para saksi.
Setelah perjuangan panjang, pria berperawakan jangkung itu akhirnya selesai melangsungkan akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pengadegan, Jumat (27/3/2026) pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Sosok Wanita Nikahi 2 Polisi yang Bersahabat dengan Mahar Rp 1 M, Ibu Tak Masalah Asal Anak Bahagia
Berbeda dari biasanya, prosesi akad nikah yang dipandu oleh Kepala KUA Pengadegan, Saroyo tersebut menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.
Untuk ijab kabul sendiri diucapkan dalam bahasa Inggris agar dipahami kedua mempelai.
Sementara khotbah nikah oleh Penghulu Faishal Nur Adam menggunakan Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab agar pesan pernikahan dapat diterima secara utuh oleh semua pihak yang hadir.
Mempelai pria, Gursewak mengaku sangat terkesan dengan bantuan dan bimbingan para petugas KUA selama proses pernikahannya.
“Pengalaman saya baik sekali di sini, semua staf sangat membantu, apa pun yang saya butuhkan, mereka membantu secara maksimal, dan semua berjalan lancar, terima kasih,” kata Gursewak yang tampak serasi menggunakan kemeja batik hitam, melansir dari Kompas.com.
Kepala KUA Kecamatan Pengadegan, Saroyo mengungkapkan, Gursewak bertemu dengan Iin saat berada di Batam, Kepulauan Riau.
Setelah perkenalan itu, Gursewak yang bekerja di bidang konstruksi itu akhirnya datang ke kampung halaman Iin dan meminangnya tepat sebelum Ramadan bulan februari lalu.
“Calon pengantin pria ini datang ke KUA untuk konsultasi, petugas lalu memberikan penjelasan lengkap terkait prosedur dan persyaratan, termasuk soal agama kedua calon pengantin,” kata Saroyo.
Saat datang ke KUA, Gursewak sendiri masih memeluk agama Sikh.
Namun kebulatan hati untuk memperistri Iin akhirnya membuka hati Gursewak untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
“KUA Pengadegan kemudian membimbing Gursewak mengucapkan dua kalimat syahadat oleh penghulu, Faishal Nur Amin. Proses berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari layanan pendampingan mualaf,” ujar Saroyo.
Kini setelah resmi menikah, pasangan suami istri Gursewak dan Iin berencana untuk merangkai mahligai rumah tangga di luar negeri.
“Setelah ini katanya mereka mau ke Milan, Italia, sekitar bulan Mei,” pungkasnya.
Pernikahan pasangan di Garut yang tak pandang rupa viral di media sosial.
Diketahui pasangan ini bernama Edi Koswara dan Ani.
Meski wajah pengantin wanita tak sempurna seperti wanita lainnya, tapi pengantin pria yakin membina rumah tangga dengan kekasihnya itu.
Pernikahan mereka pun turut mengundang perhatian Dedi Mulyadi hingga diundang di rumahnya di Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat.
Edi Koswara merupakan pemuda asal Karang Nunggal, Tasikmalaya, sedangkan Ani berasal dari Garut.
Saat bertemu dengan Dedi Mulyadi, Edi Koswara dan Ani menceritakan kisah cinta mereka yang sederhana.
Edi menceritakan awal perkenalan mereka berawal dari DM (Direct Message) di media sosial TikTok.
Baca juga: Sosok Emre Pria Turki Nikahi Anak Penjual Keripik dengan Mahar Emas 10 Gram, Awal Kenal Terungkap
Edi mengaku bahwa dirinya yang pertama kali berkirim pesan kepada Ani untuk berkenalan.
Pesan Edi pun dibalas secara hangat oleh Ani hingga akhirnya komunikasi mereka pun terus berlangsung intens.
Suatu ketika sejoli ini pun berencana untuk bertemu setelah intens berkomunikasi di media sosial.
Tak disangka, Edi memutuskan menemui Ani secara langsung di rumahnya di Garut, Jawa Barat.
Pertemuannya pertama kali itu sempat membuat Edi terkejut karena melihat kondisi Ani.
Edi mengaku saat berkomunikasi dengan Ani lewat media sosial, dirinya tak mengetahui kondisi fisik pujaan hatinya itu.
Meski sempat kaget, Edi memutuskan untuk tetap bersama.
Kepada Dedi Mulyadi, Edi mengaku tetap mencintai Ani dengan tulus karena kepribadiannya yang baik.
“Saya juga menerima, karena Ani juga orangnya baik,” ujar Edi Koswara, melansir dari TribunJabar.
Baca juga: Edi Ikhlas Nikahi Ani yang Wajahnya Tak Sempurna, Dapat Rp 10 Juta dan Biaya Ngontrak dari Gubernur
Sementara itu, Ani langsung terpikat dan jatuh hati kepada Edi.
Setelah pertemuan pertama kali itu, di pertemuan kedua Edi memutuskan langsung melamar Ani di hadapan keluarga.
Namun, keluarga Ani sempat menanyakan keseriusan Edi lantaran kondisi putri mereka yang istimewa berbeda dari wanita lainnya.
Dengan tekad, Edi pun mengutarakan bahwa niatnya untuk menikahi Ani apa adanya karena dasar mencintai.
“Saya bilang, saya apa adanya, karena sangat mencintai Ani,” ucap Edi.
Di sisi lain bagi Ani, niat baik Edi tersebut sangat dia hargai dan dia syukuri karena menerima kondisi fisiknya.
Singkat cerita, akhirnya Edi dan Ani pun menikah pada awal Februari 2026 dengan maskawin Rp 1 juta.
Meski sudah menikah, ternyata Edi dan Ani kini hidup terpisah.
Untuk menanggung masa depannya dengan Ani, Edi pun sudah bekerja di pabrik konveksi di Soreang, Kabupaten Bandung.
Sementara Edi bekerja di Bandung, namun Ani masih tinggal di rumah orang tuanya di Garut.
Alasan Edi tak membawa Ani ikut dengannya ke Bandung lantaran kendala biaya kontrakan yang berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu per bulan.
Edi khawatir jika gaji yang diterimanya tak cukup untuk menghidupi Ani selama di Bandung jika mengontrak.
Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi menyarankan agar Edi dan Ani hidup mandiri terpisah dari orang tua.
Meski kisah Edi dan Ani itu sederhana, Dedi Mulyadi terenyuh dan memberikan apresiasi terhadap ketulusan cinta mereka.
Ia pun memberikan tawaran untuk biaya kontrakan selama satu tahun penuh agar pasangan ini bisa tinggal bersama di Bandung.
Selain bantuan membayar kontrakan, Gubernur yang akrab disapa KDM itu juga memberikan beberapa hadiah uang tunai Rp 10 juta untuk membeli perlengkapan rumah tangga seperti piring, kompor, dan alat masak lainnya agar mereka bisa hidup mandiri.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi berpesan agar pasangan itu tetap semangat dan membiasakan diri untuk hidup mandiri tanpa menumpang di rumah orang tua atau saudara.
Dedi Mulyadi pun mengakhiri pembicaraannya dengan doa agar pasangan tersebut bahagia dalam menempuh hidup baru.