TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta menyatakan dukungannya terhadap pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II sebagai Pahlawan Nasional.
Dukungan tersebut, disampaikan melalui pernyataan sikap bertajuk "Surat Pernyataan Dukungan Masyarakat" yang dirilis di Yogyakarta pada 25 Maret 2026 lalu.
Petisi pun ditandatangani sejumlah tokoh, antara lain Marsekal Madya (Purn) Syajadijono, Dr. Agus Pandoman, hingga perwakilan akademisi dari berbagai universitas ternama di Yogyakarta seperti UGM, UAJY, dan UPN.
"Sri Sultan Hamengku Buwono II bukan sekadar raja, tetapi pemimpin yang secara tegas menolak intervensi kolonial. Sikap keras dan tidak kompromistisnya menjadikannya simbol keberanian bagi bangsa Indonesia," bunyi salah satu poin dalam petisi tersebut.
Dukungan diperkuat oleh analisis hukum dan sejarah yang disusun oleh Artha Pararta Dharma, yang merupakan bagian dari Trah Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, katanya, sosok HB II dinilai telah memenuhi seluruh kriteria tanpa celah.
Beberapa poin krusial yang menonjol di antaranya jasa luar biasa dalam mengorganisasi kekuatan militer, membentuk tentara wanita, hingga membangun benteng pertahanan keraton (Pasal 1).
Integritas moral dengan memilih dilengserkan dari takhta berulang kali oleh kekuatan kolonial daripada harus tunduk pada kemauan penjajah (Pasal 25).
Kemudian kepemimpinan nyata HB II yang ditunjukkan HB II dalam perlawanan saat Keraton Yogyakarta diserbu pasukan kolonial pada tahun 1812 silam (Pasal 26).
"Jika Sultan Hasanuddin atau Teuku Umar diakui karena strategi dan resistensinya, maka HB II melakukan fungsi yang identik. Ia memiliki rekam jejak yang konsisten, melawan, memimpin, dan menolak menyerah hingga jatuh," tegas Romo Artha.
Ditambah lagi, pengakuan internasional dari sejarawan seperti M.C. Ricklefs dan Peter Carey dianggap sudah cukup membuktikan signifikansi perjuangan Sultan HB II.
Dalam karyanya, Peter Carey mencatat, bahwa ekspansi Eropa di tanah Jawa memicu perlawanan berkelanjutan yang dimotori oleh keberanian sang raja.
Lebih lanjut, Yayasan Vasatii Socaning Lokika pun telah menyiapkan seminar nasional bertajuk "Jejak Kepahlawanan Sri Sultan Hamengkubuwono II" pada 30 Maret 2026.
Forum tersebut, bertujuan membedah arsip lama dan bukti otentik terkait kegigihan Sri Sultan HB II dalam peristiwa monumental seperti Geger Sepehi.
Ketua Yayasan, Fajar Bagoes Poetranto, yang juga perwakilan Trah Sultan HB II menegaskan, seminar nasional ini merupakan langkah penting untuk memberikan argumentasi solid kepada pemerintah.
"Pengusulan ini adalah misi utama kami untuk mendapat pengakuan negara yang semestinya. Dukungan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, dan Wakil Menteri Sosial jadi legitimasi luar biasa bagi keluarga besar trah Sri Sultan HB II," terangnya.