Alarm Bahaya! Suhu Bumi Naik, Kekeringan hingga Gagal Panen Mengintai
GH News March 28, 2026 06:13 PM
Jakarta -

Fenomena kenaikan suhu bumi bukan lagi sekadar wacana. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren tersebut benar-benar terjadi.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, suhu rata-rata permukaan bumi tercatat mencapai +1,42 °C ± 0,12 °C dibandingkan rata-rata masa pra-industri (1850-1900). Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa pemanasan global kian nyata dan terus berlangsung.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap ringan. Kenaikan suhu bumi berpotensi mengganggu kestabilan iklim, memengaruhi ketersediaan air, mengancam ketahanan pangan, hingga berdampak pada kesehatan manusia.

Pakar klimatologi sekaligus dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, turut mengungkap berbagai dampak lanjutan yang perlu diwaspadai.

Penyebab Terjadi Peningkatan Suhu

Peningkatan suhu bumi menurut Emilya setidaknya disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan ini dipicu oleh aktivitas manusia seperti pemakaian bahan bakar fosil, efek gas rumah kaca, dan masih banyak lagi. "Nah suhu yang makin panas itu kemudian juga menimbulkan dampak kenaikan suhu terhadap permukaan bumi," katanya dikutip dari laman resmi UGM.

Peningkatan suhu menjadikan proses evaporasi dan transpirasi meningkat. Pembentukan awan pun akan semakin besar dan menimbulkan mudah terjadi hujan. Kondisi diperparah juga oleh monsoon Australia. Monsoon ini menimbulkan uap air dari wilayah selatan terbawa ke wilayah utara yang lebih tinggi yakni Asia.

"Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau it menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau," ungkap Emilya.

Berkurangnya Tinggi Dataran Rendah-Bencana

Emilya menjelaskan, kenaikan suhu global berpotensi mempercepat pencairan es di wilayah Kutub Utara. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya volume air laut.

Menurutnya, suhu yang semakin tinggi juga akan memicu laju penguapan yang lebih besar. Dampaknya, curah hujan berpotensi meningkat dan terjadi lebih sering di sejumlah wilayah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi luas daratan di wilayah pesisir dan dataran rendah. Kawasan-kawasan ini pun menjadi lebih rentan terhadap bencana seperti banjir.

"Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya," ujarnya dalam laman UGM, dikutip Sabtu (28/3/2026).

Dampak Kenaikan Suhu di Musim Kemarau

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal, yakni mulai April 2026. Kondisi ini menjadi perhatian, terutama di tengah tren kenaikan suhu global.

Emilya mengingatkan kombinasi kemarau panjang dan suhu yang terus meningkat berpotensi memicu kekeringan di berbagai daerah. Situasi ini bisa semakin berat jika disertai angin kencang yang kerap muncul saat musim kemarau.

Angin kencang tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kerusakan bangunan dan pepohonan, tetapi juga memperburuk dampak kekeringan yang terjadi. Di sektor pangan, dampaknya dinilai cukup signifikan. Musim kemarau yang berkepanjangan dapat mengganggu siklus tanam, terutama bagi petani padi.

"Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga," jelas Emilya.

Langkah Menghadapi Kenaikan Suhu

Menjelang kemarau panjang yang disebut BRIN sebagai "Godzila El-Nino", Emilya mengingatkan masyarakat untuk melakukan upaya mitigasi. Mulai dari menangkap hujan dari atap.

Saat hujan, masyarakat bisa menampung air untuk persediaan di kala musim kemarau datang dan kekeringan melanda. Ia juga menyarankan agar menggunakan air dengan bijak.

"Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan," tutur Emilya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.