Produksi Padi Tahunan di Kabupaten Malinau Tumbuh 28 Persen, Awal Tahun 2026 Susut Sepertiga
Junisah March 28, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU- Sepanjang tahun 2025 produksi padi di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara mencatatkan pertumbuhan sebesar 28,13 persen. Namun di kuartal pertama tahun 2026 diprediksi mengalami penurunan tajam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, volume produksi padi di bumi intimung meningkat dari 5.674 ton gabah kering giling pada 2024 menjadi 7.270 ton gabah kering giling pada akhir 2025.

Kenaikan produksi padi ini sejalan dengan perluasan area panen yang tercatat mencapai 1.753 hektare, atau tumbuh 15,88 persen dibandingkan luas lahan tahun sebelumnya yang hanya 1.513 hektare.

Capaian tersebut menempatkan Kabupaten Malinau sebagai satu dari tiga daerah penyumbang beras terbesar di Kalimantan Utara, bersaing dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Nunukan.

Baca juga: Optimis Produksi Padi Malinau Kaltara Meningkat di 2025, Ubinan Penangkar Cetak 9,4 Ton Benih

Namun, memasuki periode Januari hingga Maret 2026, potensi produksi padi diperkirakan merosot menjadi 3.609 ton gabah kering giling, turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 5.278 ton.

Salah satu petani asal Malinau Utara, Agustinus berpendapat awal tahun biasanya produksi turun karena sejumlah faktor.

Diantaranya, pergeseran masa tanam dan kondisi lingkungan yang memengaruhi motivasi kerja di hulu produksi, yakni petani di lapangan.

"Biasanya kalau awal tahun itu masa transisi, cuaca tidak menentu seperti banjir, jadi minat teman-teman petani agak fluktuatif," ungkap Agustinus.

Penurunan luas panen pada awal 2026 diprediksi mencapai 28,70 persen atau menyusut sebanyak 368 hektare jika dibandingkan dengan hamparan lahan yang digarap pada awal 2025.

Baca juga: Tiga Daerah Ini Jadi Penopang Ketahanan Pangan di Kaltara, Produksi Padi Naik 27 Persen Tahun 2024

Anomali ini menjadikan Malinau sebagai satu-satunya daerah di Kalimantan Utara yang tren produksinya menurun, di saat angka provinsi secara keseluruhan diprediksi naik 13,84 persen.

"Ada pertimbangan juga dari petani. Karena biasanya awal tahun kondisi cuaca tidak menentu. Makanya biasanya pertengahan tahun sudah banyak yang nanam," ucap petani lainnya, Markus.

Data BPS Kaltara menunjukkan adanya fluktuasi produksi padi berdasarkan kuartal. Namun secara tahunan, produksi setahun lalu masih tumbuh sehat dibanding 2024 lalu.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.