SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tulungagung kini tengah berada dalam posisi sulit.
Belum usai persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kg yang terjadi sejak sebelum Ramadan, kini kekhawatiran mereka bertambah seiring memanasnya konflik geopolitik dunia antara Iran dan Israel.
Situasi ini dinilai sangat menekan produktivitas, terutama di tengah tingginya pesanan yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan ekonomi lokal.
Saat acara halalbihalal komunitas di Joglo Tandingan, Sabtu (28/3/2026), keresahan para pelaku UMKM diungkapkan oleh Sekretaris Sahabat UMKM Tulungagung, Titalina.
Acara yang mengusung tema "Menebar Maaf, Mempererat Silaturahmi, dan Meningkatkan Omset" ini dihadiri sekitar 100-150 orang dari total 789 anggota.
“Kami sebenarnya perlu perhatian, karena tahun lalu kami kesulitan mendapatkan minyak goreng. Sekarang gas elpiji sulit didapat,” ujar Tita.
Baca juga: Pantai Papuma Jember Membeludak Diserbu 8.900 Wisatawan, Pengunjung Pingsan dan Jatuh di Tanjakan
Tita menambahkan, saat Ramadan fokus mereka bukan lagi pada pemasaran, melainkan pemenuhan pesanan.
“Selama Ramadan kami sebenarnya sudah tidak perlu memasarkan, sebab tinggal memenuhi pesanan saja," lanjutnya.
Akan tetapi, mereka harus tertekan akibat kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg.
Kelangkaan ini dilaporkan sudah terjadi sejak sebelum hingga selama bulan Ramadan.
Kondisi tersebut sangat memukul para pelaku usaha, mengingat mereka sebenarnya membutuhkan produksi besar-besaran untuk memenuhi pesanan yang sedang tinggi.
Kini, beban pikiran Tita dan kawan-kawan bertambah dengan adanya perang Iran yang berpotensi menghambat pasokan energi global dan mengganggu stabilitas di Indonesia.
Mereka khawatir jika harga bahan bakar minyak (BBM) meroket, maka harga bahan baku lainnya akan ikut naik sehingga memaksa UMKM melakukan penyesuaian agar tidak merugi.
Baca juga: 70 Barang Pemudik Tertinggal Diamankan di Stasiun Malang, Nilainya Capai Rp 10 Juta
“Jika minyak mahal, bahan baku juga akan ikut mahal. UMKM akan tertekan,” jelas Tita.
Tita sangat berharap pemerintah mampu menjaga pasokan energi untuk masyarakat agar harga tetap stabil.
“Keinginan UMKM tidak muluk-muluk, bahan baku tersedia agar produksi tetap lancar. Tidak ada kelangkaan agar ekonomi tetap bisa berputar,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tulungagung, Slamet Sunarto, mengakui perang Iran memang menjadi tantangan serius bagi UMKM.
Menurutnya, harga minyak dunia merupakan salah satu asumsi makro yang saat ini sudah melampaui batas.
“Tantangan ke depan adalah kondisi dunia yang tidak baik-baik saja. Salah satu asumsi makro yang sudah melebihi adalah harga minyak dunia,” ungkap Slamet.
Baca juga: Ancaman Krisis Energi di Vietnam: Airlines Batalkan Puluhan Penerbangan, Asia Tenggara Mulai Goyah
Slamet memperingatkan jika harga minyak menyentuh US$150 per barel, dampaknya akan meluas.
Oleh karena itu, Slamet mendorong pelaku UMKM untuk menerapkan manajemen diri, mengacu pada prinsip manajemen saat pandemi Covid-19 dulu, yaitu "dari desa, untuk desa, dan untuk desa."
“Jadi uang berputar di lokal saja. Jika berspekulasi keluar, harus dipikirkan sebaik mungkin,” jelas Slamet.
Selain mendorong kolaborasi sesama UMKM dalam menghadapi kondisi global, Slamet juga menekankan pentingnya branding (penjenamaan) produk sebagai strategi pemasaran utama.
“Ke depan juga ada agenda yang akan mem-branding Tulungagung di bulan Oktober. Kita akan kolaborasi dengan UMKM,” pungkasnya.