TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Macan dahan (neofelis diardi) muncul dan terekam kamera warga di tepi sungai di Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, beberapa waktu lalu.
Video berdurasi 10 detik itu direkam pada Rabu (25/3/2026) kemarin.
Tribunjambi.com merangkum informasi tentang macan dahan, sebagai berikut.
Informasi Umum
Macan dahan (Neofelis diardi) merupakan salah satu kucing liar berukuran sedang (middle cat) yang langka dan dilindungi di Indonesia.
Satwa ini dikenal sebagai predator arboreal, yakni hewan yang sangat terampil hidup dan berburu di pepohonan.
Kemampuan uniknya membuat macan dahan mampu bergelantungan di dahan hanya dengan kaki belakang saat mengintai mangsa.
Selain itu, hewan ini umumnya lebih aktif pada malam hari, meski penelitian terbaru menunjukkan mereka juga bisa beraktivitas di siang hari.
Macan dahan termasuk dalam kategori karnivora atau pemakan daging.
Ciri Fisik dan Keunikan Tubuh
Macan dahan memiliki tubuh yang relatif ramping dengan panjang ekor yang hampir menyamai tubuhnya.
Bobotnya berkisar 12-23 kilogram, dengan betina umumnya lebih kecil dibandingkan jantan.
Adapun ukuran tubuhnya, rata-rata macan dahan dewasa memiliki panjang sekitar 84 cm.
Salah satu ciri paling mencolok adalah pola bulunya yang menyerupai bentuk awan berwarna gelap di atas latar abu-abu kehitaman.
Pola ini menjadi kamuflase alami yang sangat efektif di habitat hutan lebat.
Selain itu, macan dahan memiliki taring panjang yang dapat mencapai sekitar 5 sentimeter, menjadikannya salah satu kucing dengan proporsi taring terbesar dibanding ukuran tubuhnya.
Dibandingkan kerabat dekatnya di daratan Asia (Neofelis nebulosa), macan dahan dari Sumatra dan Kalimantan cenderung memiliki warna corak yang lebih gelap dan kontras.
Reproduksi dan Siklus Hidup
Macan dahan mulai mencapai kematangan seksual pada usia 2 hingga 3 tahun. Musim kawin dapat berlangsung sepanjang tahun.
Masa kehamilan berlangsung sekitar 85 hingga 95 hari, dengan jumlah anak yang dilahirkan antara 1 hingga 5 ekor.
Setelah melahirkan, induk betina akan merawat anaknya sendiri tanpa bantuan jantan.
Saat lahir, anak macan dahan dalam kondisi buta karena matanya belum terbuka.
Mata mereka baru akan terbuka setelah berusia sekitar 10 hingga 11 hari, dengan berat lahir berkisar 140–280 gram.
Perkembangan mereka tergolong cepat.
Pada usia sekitar 20 hari, anak sudah mulai berjalan, dan pada usia enam minggu sudah mampu memanjat pohon.
Ketika menginjak usia 10 bulan, mereka mulai mandiri dan meninggalkan induknya untuk mencari wilayah baru.
Di alam liar, macan dahan dapat hidup antara 11 hingga 17 tahun, sementara di penangkaran umumnya bisa bertahan lebih lama karena minim ancaman.
Perilaku
Macan dahan dikenal sebagai pemanjat yang sangat andal.
Cakar yang kuat, telapak kaki besar, serta ekor panjang membantu menjaga keseimbangan saat bergerak di antara dahan.
Keunikan lainnya terletak pada struktur pergelangan kakinya yang fleksibel, memungkinkan mereka turun dari pohon dengan posisi kepala lebih dulu—kemampuan yang jarang dimiliki kucing lain.
Satwa ini bersifat soliter atau menyendiri, mirip dengan harimau.
Mereka hanya berinteraksi saat musim kawin atau ketika induk merawat anaknya.
Sebagai predator, macan dahan memangsa berbagai jenis satwa liar.
Menu makanannya meliputi kera, burung, ular, mamalia kecil, hingga hewan berukuran lebih besar seperti rusa dan bekantan.
Mereka biasanya berburu pada malam hari dan memanfaatkan keahlian memanjat untuk menyergap mangsa dari atas.
Habitat dan Persebaran
Macan dahan tersebar di kawasan Asia Tenggara, terutama di hutan tropis dataran rendah hingga pegunungan.
Populasi yang berada di Sumatra dan Kalimantan kini diklasifikasikan sebagai spesies tersendiri (Neofelis diardi), berbeda dari macan dahan daratan Asia (Neofelis nebulosa).
Sementara itu, Neofelis nebulosa memiliki sebaran yang lebih luas, mencakup wilayah Tiongkok, Indocina, India, hingga Semenanjung Melayu.
Namun, di beberapa wilayah seperti Taiwan, spesies ini telah dinyatakan punah di alam liar.
Status Konservasi
Berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), macan dahan berstatus rentan (vulnerable).
Ancaman utama yang dihadapi satwa ini meliputi kerusakan habitat akibat deforestasi, perburuan liar, serta perdagangan ilegal untuk diambil kulit, dikonsumsi, maupun dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di beberapa negara.
Selain itu, macan dahan juga masuk dalam CITES Appendix I, yang berarti perdagangan internasional terhadap spesies ini dilarang kecuali untuk kepentingan tertentu seperti penelitian.
Muncul di Merangin
Kemunculan satwa rentan ini di Merangin dan terekam kemera menjadi buah bibir.
Peristiwa tersebut terjadi di aliran sungai wilayah Kecamatan Tabir Barat, tepatnya di Desa Pulau Lebar, pada Rabu (25/3/2026).
Video berdurasi sekitar 10 detik yang diunggah akun Instagram @info_jambi_24jam itu memperlihatkan seekor kucing besar berada di tepi sungai saat seorang warga hendak mandi.
Dalam unggahannya, akun tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian habitat satwa langka tersebut.
"Semoga habitat dan makanannya selalu terjaga di hutan, dan jangan diburu yo lur!!," tulisnya.
Kemunculan Macan Dahan Sumatera itu pun memicu beragam komentar dari warganet. Sebagian menyoroti kondisi lingkungan yang mulai terganggu.
Camat Tabir Barat, Abdul Rahman, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.
Ia menyebut, penampakan itu terjadi saat warga hendak mandi di sungai pada pagi hingga menjelang siang hari.
"Ya, itu warga pas waktu lebaran kemarin mau mandi ke sungai, nampak lah macan dahan di pinggir sungai, sekitar jam 10 atau 11 pagi," kata Abdul Rahman.
Ia menegaskan, satwa yang terlihat bukan harimau sumatra, melainkan macan dahan sumatra yang juga termasuk hewan dilindungi.
"Itu bukan harimau, tapi macan dahan sumatra," jelasnya.
Setelah menerima laporan, pihak kecamatan bersama aparat terkait langsung turun ke lokasi untuk memastikan informasi dari warga.
Abdul Rahman juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan satwa liar di sekitar permukiman, serta segera melapor jika menemukan kejadian serupa.
"Dengan kemunculan macan dahan sumatra itu, saya sampaikan agar warga selalu berhati-hati dan waspada," ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut maupun diri sendiri, serta menjaga kelestarian hutan sebagai habitat alami mereka.
Baca juga: PP Tunas Batasi Anak Main Medsos, Mendikdasmen: Perbanyak Kegiatan Fisik
Baca juga: Daftar 9 Pejabat Utama dan Kapolsek di Jajaran Polres Merangin yang Berganti
Baca juga: Tiga Rumah Semipermanen di Kerinci Terbakar saat Pemilik tak di Rumah