Kapal RI Tertahan di Selat Hormuz, Iran Diduga ‘Sakit Hati’ Imbas Indonesia Gabung BoP
Rita Lismini March 28, 2026 10:49 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Dua kapal tanker asal Indonesia masih dilarang melintasi Selat Hormuz oleh Iran hingga Sabtu (28/3/2026). Situasi ini terjadi di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Berdasarkan pantauan Marine Traffic, dua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Kapal Pertamina Pride yang mengangkut kebutuhan energi nasional dilaporkan masih tertahan di utara Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro membawa kargo milik pihak ketiga.

Meski demikian, sejumlah kapal dari negara lain seperti China, Rusia, India, Irak, Pakistan, hingga Malaysia dan Thailand telah diizinkan melintas. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan negosiasi dengan Iran masih berlangsung namun berjalan alot karena antrean panjang negara lain yang juga mengurus izin.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menyebut sudah ada perkembangan positif, dengan pembahasan yang kini masuk tahap teknis dan operasional.

Iran ‘Sakit Hati’ ke Indonesia Buntut Gabung BoP

Pengamat ekonomi CELIOS, Bhima Yudhistira, menduga penahanan kapal Indonesia berkaitan dengan sikap Iran yang merasa “sakit hati” setelah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, kerja sama tarif resiprokal antara Indonesia dan AS juga dinilai memperkuat persepsi Iran terhadap posisi Indonesia.

Bhima bahkan menyarankan pemerintah mengevaluasi kebijakan tersebut, termasuk kemungkinan keluar dari BoP, agar hubungan dengan Iran membaik dan akses kapal kembali dibuka.

Senada, pakar hukum internasional UI, Hikmahanto Juwana, menilai faktor politik dan sikap Indonesia terhadap konflik Iran dengan AS dan Israel bisa menjadi alasan Iran mempersulit akses.

Namun, ia berharap hambatan tersebut hanya bersifat teknis. Menurutnya, kebijakan Iran di Selat Hormuz memang cenderung politis, terutama terhadap negara yang dianggap tidak sejalan.

Jika kondisi ini berlanjut, biaya distribusi energi ke Indonesia berpotensi meningkat karena kapal harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.