Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNTRENDS.COM, KLATEN – Ribuan warga memadati Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (28/3/2026), untuk mengikuti Grebeg Syawal 1447 H dengan 18 gunungan ketupat dan 1.000 porsi opor gratis.
Kerumunan warga tampak tak terbendung saat gunungan ketupat mulai dibagikan. Sejumlah orang saling berdesakan, mengulurkan tangan, bahkan memanjat sisi panggung demi mendapatkan isi gunungan.
Petugas kepolisian terlihat berupaya mengatur jalannya pembagian, meski dorongan massa tetap terjadi.
Di tengah keramaian itu, wajah-wajah antusias tampak dari warga yang berhasil membawa pulang ketupat, sayur, hingga hasil bumi dari gunungan.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengakui tingginya antusiasme masyarakat dalam tradisi tahunan tersebut.
“Hari ini kita melaksanakan kegiatan tahunan yang namanya Grebek Syawal. Setelah kita beribadah di bulan suci Ramadan 30 hari berpuasa sama-sama kita saling bermaaf-maafan. Kemudian juga berbagi kebahagiaan dengan kita berbagi ketupat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut telah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan.
“Ini kegiatan yang memang sudah turun-temurun yang kita lestarikan bersama. Alhamdulillah tahun ini ada 18 gunungan yang bisa dibagikan kepada warga masyarakat, kemudian juga kita siapkan 1000 porsi ketupat siap santap,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, bupati juga sempat berada di tengah kerumunan warga.
“Ya itulah dinamika warga masyarakat karena saking senangnya. Mungkin ke depan kita tertibkan sehingga nanti kita bisa berbaginya bisa lebih banyak pada warga masyarakat,” katanya.
Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudporapar Klaten Dwi Murwanti, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna mendalam.
“Makna utamanya bermuara pada filosofi ketupat yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang ditunjang dengan Laku Papat: lebar, luber, lebur, dan labur,” jelasnya.
Selain kirab gunungan, kegiatan juga diisi hiburan masyarakat dan lomba kreativitas.
Di sisi lain, momentum ini sekaligus menjadi daya tarik wisata yang mempertemukan tradisi dan keramaian publik dalam satu ruang. (*)