Tradisi Kupatan Jember, 36 Pegon Diarak 6 Km ke Pantai Watu Ulo
Haorrahman March 28, 2026 10:50 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Tradisi Hari Raya Ketupat atau Kupatan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali digelar meriah dengan arak-arakan puluhan pegon menuju kawasan pantai selatan.

Sebanyak 36 pegon atau gerobak tradisional yang ditarik dua ekor sapi diarak sejauh sekitar 6 kilometer dari Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menuju kawasan wisata Pantai Watu Ulo, Sabtu (28/3/2026).

Arak-arakan budaya tersebut dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dan menjadi salah satu tradisi tahunan masyarakat Jember Selatan dalam merayakan Kupatan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Pegon Dihiasi Janur

Dalam festival tersebut, setiap peserta menghias pegon dengan berbagai ornamen tradisional seperti janur kuning, selendang, dan dekorasi khas pedesaan.

Selama perjalanan menuju pantai, para peserta juga membawa berbagai hidangan khas Kupatan seperti ketupat, lepet, lontong, dan sayur santan yang dinikmati bersama di dalam pegon.

Baca juga: 20 Persen Kentungan Masuk PADes, Kemendes Dorong Desa di Bondowoso Sukseskan Koperasi Merah Putih

Sepanjang rute arak-arakan, ribuan warga terlihat memadati pinggir jalan untuk menyaksikan rombongan pegon yang berjalan perlahan menuju pantai dengan ditarik sapi.

Disambut Tarian Reog

Suasana festival semakin meriah ketika rombongan pegon tiba di kawasan pantai. Sejumlah kelompok seni menampilkan pertunjukan budaya seperti Reog Ponorogo untuk menyambut kedatangan peserta.

Setelah tiba di lokasi, masyarakat menggelar syukuran bersama dengan membawa bubur sengkolo, yang bagi masyarakat setempat menjadi simbol doa dan penolak bala.

Tradisi Turun-Temurun

Pelaksana Tugas Camat Ambulu, Fahrul Asrori, mengatakan tradisi arak-arakan pegon sudah berlangsung sejak lama dan menjadi agenda budaya tahunan masyarakat setempat.

“Festival pegon atau arak-arakan pegon sudah dilakukan sejak dahulu kala dan sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat Ambulu,” ujarnya.

Baca juga: Ribuan Orang Padati Pantai Papuma Jember, Sejumlah Pengunjung Pingsan

Menurutnya, peserta yang mengikuti kegiatan ini mayoritas merupakan bajingan atau pengemudi pegon dari berbagai desa di Kecamatan Ambulu.

“Tiap tahun festival pegon selalu diselenggarakan dan antusias warga sangat banyak sekali,” katanya.

Dongkrak Wisata Jember

Fahrul menambahkan, kegiatan budaya tersebut juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata di Jember Selatan.

Apalagi sejak awal tahun 2026, pemerintah daerah telah meluncurkan sistem tiket terintegrasi antara kawasan wisata Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo.

“Apalagi pada 1 Januari 2026 telah di-launching pengintegrasian tiket antara Papuma dan Watu Ulo dan murah sekali cuma Rp12.500,” jelasnya.

Pengunjung Membludak

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jember Fuad Akhsan menyebut antusiasme masyarakat tahun ini meningkat dibandingkan sebelumnya.

Bahkan kepadatan pengunjung sempat menyebabkan kemacetan di jalur menuju lokasi festival.

“Tadi saya juga lewat perjalanan ke sini (Watu Ulo) cukup padat juga. Artinya sangat tinggi pengunjungnya,” ujarnya.

Baca juga: Marcus Rashford Potensi Tak Dipermanenkan Barcelona, AC Milan Tertarik Bajak Bomber Inggris

Fuad menilai arak-arakan pegon merupakan tradisi penting masyarakat Jember Selatan yang telah berlangsung puluhan tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Transportasi tradisional pegon dahulu digunakan oleh masyarakat untuk membajak sawah, sehingga kini dilestarikan melalui festival budaya.

“Makanya dalam festival ini juga menampilkan kesenian reog sebagai warisan leluhur. Apalagi setiap tahun jumlah pegon sudah mulai berkurang,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.