Oleh: Sri Yulianti Baya Kollo
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM — Perayaan Lebaran Topat di Lombok selalu diwarnai dengan tradisi ziarah ke makam-makam keramat. Di balik keramaian warga yang merayakan hari raya ketupat, terdapat ritual spiritual mendalam yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Sasak di makam para wali, salah satunya Makam Loang Baloq yang diperkirakan berusia 300 tahun.
Menurut salah seorang pengurus makam, inti dari ziarah ini adalah membawa hajat keselamatan dari rumah untuk disampaikan melalui doa di area makam. Salah satu tradisi unik yang masih terjaga hingga kini adalah ritual mencuci muka di dalam area pemakaman setelah prosesi zikir selesai.
Ziarah dilakukan dengan masuk ke dalam area makam, lalu berdoa denan niat hajat dari rumah untuk minta keselamatan. Setelah berdoa, kemudian cuci muka di dalam makam. Hal itu sudah menjadi tradisi sejak lama.
Meski ritual dilakukan di pemakaman, niat utama tetap ditujukan kepada Sang Pencipta. Memanjatkan doa kepada Allah, bukan minta doa kepada kuburan. Warga meyakini, di mana pun tempat berdoa, tujuannya hanya satu yakni kepada Allah SWT.
Baca juga: Gubernur NTB Ingatkan Pentingnya Memahami Filosofi Tradisi Lebaran Topat
Antusiasme peziarah tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga dari luar daerah seperti Heriadi (28), pengunjung asal Lombok Timur. Bagi Heriadi, berziarah ke makam penyebar Islam di Lombok adalah bentuk tawasul atau mencari perantara doa.
“Kita sebagai manusia banyak dosa, maka kita tawasul. Kita jadikan beliau (wali) perantara memohon hajat kita supaya cepat disampaikan ke Allah,” ungkap Heriadi. Ia menambahkan bahwa sosok yang dimakamkan merupakan ulama besar yang memiliki kaitan sejarah dengan kerajaan Selaparang.
Selain doa formal, Heriadi juga menyoroti adanya fenomena unik "ikatan hajat" di area makam. Banyak peziarah yang mengikatkan sesuatu pada batang kayu di sekitar lokasi dengan harapan hajat tertentu, termasuk urusan jodoh, dapat segera terkabul.
“Katanya kalau sudah ketemu jodohnya, nanti langsung dilepas ikatannya. Tapi itu kembali ke keyakinan masing-masing,” tambahnya.
Pihak pengelola makam terus mengimbau para peziarah untuk menjaga kesopanan, termasuk kewajiban berhijab bagi perempuan dan larangan bercelana pendek bagi pria, guna menjaga kesucian lokasi makam wali tersebut. Melalui tradisi ini, masyarakat berharap nilai-nilai religius dan sejarah lokal tetap lestari di tengah generasi muda.