TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Masyarakat di Kabupaten Gianyar, Bali, setiap tahunnya selalu dihantui oleh penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk demam berdarah. Uniknya, penyakit ini seakan hanya menyasar warga lokal.
Meskipun di Gianyar sendiri terdapat banyak wisatawan mancanegara, namun sejauh ini belum pernah ada laporan wisatawan terserang DBD.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Gianyar, setiap tahun kasus DBD terus mengalami peningkatan.
Tercatat pada tahun 2023 sebanyak 1.142 kasus dengan 2 kematian dan meningkat di tahun 2024 sebanyak 4.476 kasus dengan 5 kematian.
Baca juga: 14 Orang Meninggal Dunia karena DBD, Kasus Tertinggi di Badung
Di tahun 2025 tercatat mengalami penurunan menjadi 1.972 kasus dengan 3 kematian. Sementara per Januari 2026 telah tercatat 46 kasus DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, Minggu 29 Maret 2026 mengatakan, pencegahan dan pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dimulai dari tingkat desa.
Di mana sejumlah desa telah melakukan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sejak Februari.
"Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD yang efektif dilaksanakan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat secara berkesinambungan dan terus menerus untuk melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus," ujarnya.
Ia menegaskan, antisipasi DBD ini relatif simpel. Yakni bisa dilakukan dengan menutup rapat semua tempat penampungan air, menguras bak air dan mendaur ulang barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat perindukan nyamuk, ditambah dengan mencegah perkembangbiakan maupun nyamuk, seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, penggunaan revelan anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela, serta menaburkan bubuk larvasida.
Namun demikian, masih ditemukan adanya tempat-tempat perindukan nyamuk di lingkungan rumah seperti tempat tanaman hias, bak kamar mandi, botol-botol bekas dan lainnya.
"Jadi masih ada risiko terjadinya kasus DBD di masyarakat. Diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan selalu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara berkala seminggu," ujarnya.
Dijelaskan bahwa penyakit DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Gejala DBD dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.
Gejala yang umum dialami antara lain fase demam 2-4 hari dengan demam tinggi mendadak, mencapai 400C, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual muntah, serta ruam kulit kemerahan.
Selanjutnya, kata dia, terjadi fase kritis 1-2 hari, di mana pada fase ini demam mulai turun, dan banyak pasien merasa dirinya telah sembuh.
Namun ini adalah fase yang paling berbahaya, karena adanya kebocoran plasma darah yang dapat menyebabkan penumpukan cairan di rongga tubuh, penurunan jumlah trombosit, yang meningkatkan risiko perdarahan dengan gejala nyeri perut yang hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik-bintik merah di kulit.
"Pada fase ini, demam pasien mungkin mulai turun, namun justru kondisi pasien dapat memburuk secara tiba-tiba. Untuk itu diharapkan bagi masyarakat bila mengalami gejala DBD agar segera datang ke sarana pelayanan kesehatan," ujarnya. (*)