Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 7 Halaman 194 195 Jurnal Membaca Kurikulum Merdeka Revisi
Hendri Gusmulyadi March 29, 2026 03:17 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Simak selengkapnya Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 7 Halaman 194 195 Jurnal Membaca Kurikulum Merdeka buku Edisi Revisi.

Materi jurnal membaca menjadi bagian penting untuk melatih kemampuan memahami isi bacaan secara kritis dan reflektif. 

Dalam pembahasan ini, setiap poin dijelaskan dengan alur yang runtut sehingga memudahkan siswa mengikuti prosesnya. 

Contoh jawaban yang disajikan juga membantu siswa dalam menyusun hasil jurnal membaca dengan lebih terarah.

Selain itu, penjelasan yang diberikan mampu mendorong kebiasaan membaca yang lebih aktif dan bermakna.

Dengan memahami materi ini, siswa diharapkan semakin terampil dalam mengungkapkan hasil bacaan ke dalam bentuk tulisan yang baik.

Pada buku Bahasa Indonesia Kelas 7 halaman 194-195 Kurikulum Merdeka yang ditulis oleh Rakhma Subarna dkk dan diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2021, terdapat latihan yang berkaitan dengan materi Bab 5, yaitu Membuka Gerbang Dunia.

Bahasa Indonesia Kelas 7 Halaman 194-195
1. Cermatilah buku fiksi yang kalian baca.  
Sudut pandang siapa yang digunakan oleh penulis buku tersebut? Apakah tokoh utama, orang tua, atau bahkan temannya?

Jawaban:

Buku fiksi yang dijadikan rujukan yakni novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2009.


Dalam novel Negeri 5 Menara, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama (tokoh utama).

Siapa yang bercerita? Tokoh utama sendiri, yaitu Alif Fikri.

Ciri khas: Penulis menggunakan kata ganti "Aku" dalam menarasikan setiap kejadian, perasaan, dan pengamatannya terhadap lingkungan Pondok Madani.

2. Temukan satu adegan atau kejadian dalam cerita yang paling menarik bagi kalian.

Jawaban:

Adegan yang paling ikonik dan menarik adalah saat pertama kali Kiai Rais masuk ke kelas dan memberikan pelajaran tentang "Man Jadda Wajada".

Dalam adegan ini, Kiai Rais membawa sebuah kayu yang terlihat tidak berguna, lalu mematahkannya dengan parang yang tumpul namun dilakukan dengan kesungguhan hati yang luar biasa. 

Hal ini dilakukan untuk mendemonstrasikan kekuatan tekad di depan murid-murid baru (Sahibul Menara).

3. Ubahlah sudut pandang cerita pada satu kejadian tersebut.  
Misalnya, apabila buku kalian bercerita dari sudut pandang tokoh utama, bagaimana jika kali ini guru si tokoh utama yang menceritakan tokoh? Bagaimana pula jika temannya yang bercerita?

Kalian bahkan bisa membuat cerita dari sudut pandang hewan peliharaan tokoh utama! Apakah ceritanya akan berubah?

Jawaban:

Jika menggunakan sudut pandang Kiai Rais, cerita akan berubah dari kesan "takjub dan bingung" (sisi murid) menjadi kesan "bijaksana dan penuh harapan" (sisi guru).

Kita akan melihat bagaimana pikiran seorang guru yang sedang berusaha menanamkan mental baja kepada murid-muridnya yang masih belia dan tampak ragu.

4. Tuliskan kerangka cerita dengan sudut pandang baru tersebut.  
Atau, kalian juga dapat menuliskan satu paragraf kejadian dalam sudut pandang baru itu.

Jawaban:

"Aku memandang wajah-wajah muda di depanku; wajah yang penuh keraguan, rindu rumah, dan ketidaktahuan.

Aku mengambil sebilah kayu tua dan sebilah parang tumpul. Aku bisa melihat dahi mereka berkerut bingung saat aku mulai menghantamkan parang itu ke kayu berkali-kali tanpa hasil.

Namun, saat aku memusatkan seluruh jiwaku dan berteriak 'Man Jadda Wajada!' hingga kayu itu terbelah, aku melihat binar cahaya di mata Alif dan teman-temannya.

Bukan kayu itu yang ingin aku patahkan, melainkan rasa tidak percaya diri yang membelenggu mimpi-mimpi mereka.

Aku ingin mereka tahu bahwa dengan kesungguhan, tidak ada yang mustahil di bawah langit ini."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.