TRIBUNNEWS.COM - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki hari ke-30 dengan eskalasi yang kian meluas di berbagai kawasan Timur Tengah.
Serangan tidak hanya terjadi di dalam wilayah Iran, tetapi juga merembet ke negara-negara Teluk, Irak, hingga Gaza, memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih besar.
Mengutip Al Jazeera, upaya diplomatik mulai digencarkan untuk meredakan ketegangan, termasuk pertemuan menteri luar negeri Pakistan, Turki, Mesir, dan Arab Saudi di Islamabad guna mencari jalan keluar dari konflik.
Di dalam negeri, Iran terus menjadi sasaran serangan udara. Ledakan dilaporkan mengguncang Teheran dan wilayah sekitarnya, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kawasan permukiman.
Serangan juga menargetkan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas air dan wilayah industri di beberapa provinsi.
Selain itu, Teheran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan terhadap sejumlah target strategis, termasuk dugaan serangan terhadap kediaman pejabat di wilayah Kurdi Irak.
Baca juga: Serangan AS-Israel Picu Iran Pertimbangkan Keluar dari NPT dan Kembangkan Senjata Nuklir
Di sisi lain, Iran meningkatkan serangan balasan ke target Israel.
Menurut laporan media pemerintah Iran, pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggunakan rudal dan drone untuk menyerang fasilitas militer dan industri yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat.
Militer Iran juga mengklaim telah menargetkan pusat radar dan fasilitas bahan bakar di wilayah Israel, termasuk di sekitar Haifa dan Bandara Ben Gurion.
Ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk.
Arab Saudi dilaporkan mencegat sejumlah drone, sementara Uni Emirat Arab dan Kuwait meningkatkan sistem pertahanan udara mereka untuk menghadapi potensi serangan.
Serangan terhadap fasilitas industri di Abu Dhabi dan Bahrain turut dilaporkan, menyebabkan kerusakan dan korban luka.
Eskalasi konflik juga terlihat di wilayah lain.
Mengutip laporan Al Jazeera, serangan udara Israel di Gaza menewaskan sedikitnya enam warga Palestina setelah menyasar pos polisi di Khan Younis.
Sementara itu di Irak, serangan udara menargetkan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), menambah ketegangan di negara yang kini berada di antara pengaruh Iran dan Amerika Serikat.
Kelompok Houthi di Yaman juga dilaporkan mulai terlibat dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel, memperluas spektrum konflik di kawasan.
Baca juga: 3.000 Aksi No Kings Guncang AS: Warga Serentak Protes Trump, Perang Iran, dan Krisis Ekonomi
Konflik yang berkepanjangan mulai berdampak pada ekonomi global.
Harga energi dilaporkan terus meningkat di tengah gangguan pasokan dan meningkatnya ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Pakistan bahkan mengamankan kesepakatan dengan Iran untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka bagi kapal-kapalnya di tengah ancaman krisis energi.
Di tengah meningkatnya eskalasi, upaya diplomatik terus dilakukan.
Pertemuan di Islamabad menjadi salah satu langkah untuk meredakan konflik yang berpotensi meluas menjadi perang regional.
Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda penurunan intensitas serangan, sementara masing-masing pihak terus memperkuat posisi militernya.
Situasi ini membuat Timur Tengah dinilai berada di ambang konflik besar jika tidak segera dicapai kesepakatan damai.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)