SURYA.CO.ID PONOROGO - Suasana Minggu (29/3/2026) mulai subuh, langit di atas Lapangan Jurang Gandul, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jatim, tak lagi sekadar biru.
Langit berubah menjadi kanvas raksasa yang dipenuhi warna-warni balon udara tanpa awak. Sebanyak 44 balon udara tanpa awak yang diikat perlahan terangkat.
Balon balon itu diudara menari ditiup angin, menciptakan pemandangan yang membuat ribuan pasang mata terpaku—sekilas menghadirkan suasana bak festival balon udara di Cappadocia, Turki.
Sehingga, warga bumi reog tidak perlu membayar tiket pesawat untuk melihat balon udara seperti di Cappadocia, Turki.
Sejak pagi, warga sudah berdatangan. Mereka memadati area lapangan, membawa keluarga, anak-anak, hingga kamera ponsel untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Baca juga: Lebaran Ketupat, Polisi Amankan 12 Balon Udara dan Petasan di Wilayah Jogoroto
Tak sedikit yang rela berdesakan demi mendapatkan sudut pandang terbaik saat balon-balon itu mengangkasa.
“Memang sengaja datang ke sini. Biasanya lihat balon udara yang liar dan pakai petasan, ini beda. Lebih aman dan cantik banget,” ujar Silvi Ayu, salah satu pengunjung, dengan wajah tak lepas dari senyum.
Di balik keindahan yang tampak ringan di udara, proses pembuatan balon ternyata tidak sederhana.
Salah satu peserta, Barno mengungkapkan, mereka sudah mulai mempersiapkan balon jauh sebelum Lebaran tiba.
“Membuat satu balon itu butuh waktu, bahkan sebelum Lebaran sudah mulai dikerjakan. Begitu ada pengumuman festival, kami langsung daftar dan menyiapkan desain,” ujar warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jatim.
Baca juga: Balon Udara Jumbo tanpa Awak Jatuh di Ponorogo, Sempat Disembunyikan Warga
Tantangan terbesar justru muncul saat proses perakitan. “Kesulitannya itu waktu ngelem. Kalau tidak hati-hati, bahan balon bisa mudah robek,” tambahnya.
Bagi para peserta, festival ini bukan sekadar lomba, tetapi juga ruang untuk menyalurkan tradisi yang sudah melekat sejak kecil.
“Kami ikut karena memang sejak kecil sudah terbiasa membuat balon. Tapi sekarang kan ada larangan balon liar, jadi ini jadi wadahnya,” katanya.
Perubahan konsep dari balon liar ke balon festival juga menghadirkan tantangan tersendiri. Jika sebelumnya balon diterbangkan dengan bantuan api dan petasan, kini semua harus dilakukan tanpa itu.
“Biasanya balon kami dikasih sumbu api setelah besar, jadi bisa terbang lama. Sekarang tidak ada panas terus, jadi balon hanya terbang sebentar lalu turun lagi. Harus dipanasi ulang, begitu terus,” jelasnya.
Reog Balon Carnival pun menjadi wajah baru tradisi lama. Festival ini menghadirkan balon udara tanpa petasan dan tanpa dilepas liar, melainkan diikat dengan tali serta diawasi ketat demi keselamatan.
Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk tetap berkarya tanpa membahayakan.
“Festival ini kita siapkan sebagai wadah. Masyarakat yang hobi membuat dan menerbangkan balon udara tetap bisa berkarya, tapi dengan aturan yang jelas dan aman,” ungkapnya.
Sebanyak 44 peserta ambil bagian, terdiri dari 24 peserta lokal Ponorogo dan 20 peserta undangan dari Wonosobo, Jawa Tengah.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengaku bangga melihat perubahan tradisi ini. Menurutnya, keindahan balon udara kini bisa dinikmati tanpa risiko, bahkan menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada destinasi wisata dunia.
“Ini luar biasa. Biasanya balon identik dengan petasan, sekarang tidak. Langitnya indah sekali, seperti di luar negeri,” ujarnya.
Di tengah sorak kagum warga, balon-balon itu terus melayang, seolah membawa harapan baru—bahwa tradisi tetap bisa hidup, beradaptasi, dan tetap aman dinikmati bersama.
Diketahui Festival Balon ini diperlombakan. Total hadiah belasan juta rupiah. Dari 24 yang mengikuti lomba dipilih 3 terbaik.
Adalah nomor satu dari Kecamatan Ponorogo Kota, nomor dua Kecamatan Balong dan nomor tiga Kecamatan Siman.