Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Upaya Gubernur Bengkulu Helmi Hasan untuk mempertahankan penerbangan Garuda Indonesia di Bengkulu belum membuahkan hasil, setelah maskapai tersebut resmi menghentikan operasionalnya di Bandara Fatmawati Soekarno mulai Minggu (29/3/2026).
Executive General Manager Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, Muhammad Haykal, membenarkan bahwa maskapai pelat merah tersebut sudah tidak lagi beroperasi di Bengkulu.
“Benar, kemarin merupakan last flight Garuda Indonesia. Hari ini sudah tidak ada lagi jadwal penerbangan Garuda Indonesia di Bengkulu,” ujar Haykal singkat.
Dengan demikian, mulai 29 Maret 2026, Garuda Indonesia Bengkulu resmi hilang dari sistem jadwal penerbangan di bandara tersebut.
Baca juga: Alasan Garuda Indonesia Hentikan Penerbangan di Bengkulu per 29 Maret 2026: Belum Memenuhi Target
Gubernur Helmi Hasan Gagal
Sebelum keputusan final diambil, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan operasional Garuda Indonesia Bengkulu.
Salah satunya melalui pertemuan langsung antara Gubernur Bengkulu dengan manajemen Garuda Indonesia di Jakarta.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan agar layanan tetap dipertahankan.
Setelah pertemuan tersebut, Helmi Hasan bahkan menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan unsur Forkopimda, para bupati dan wali kota se-Provinsi Bengkulu, serta para pelaku usaha dan instansi terkait lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong dukungan nyata agar tingkat keterisian penumpang meningkat sehingga operasional Garuda di Bengkulu dapat dipertahankan.
Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu mengubah keputusan perusahaan yang telah menetapkan penghentian operasional sebagai langkah final.
Alasan Penghentian Operasional
General Manager Garuda Indonesia Perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, menjelaskan bahwa penghentian layanan ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh dari sisi bisnis.
Menurutnya, tingkat okupansi penumpang pada rute Bengkulu–Jakarta yang berada di kisaran 80 persen belum mampu memenuhi target perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional.
“Tingkat keterisian penumpang masih sekitar 80 persen, dan itu belum memenuhi target maksimal yang ditetapkan perusahaan,” jelas Boby.
Keputusan penghentian Garuda Indonesia Bengkulu ini pun menjadi bagian dari langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan dalam menghadapi dinamika industri penerbangan nasional.
Penghentian operasional ini menandai berakhirnya layanan penerbangan Garuda Indonesia di Bengkulu setelah sebelumnya menjalani penerbangan terakhir sehari sebelumnya.
Penghentian Garuda Indonesia Bengkulu bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri.
Menurut pihak manajemen, langkah ini juga diterapkan di beberapa wilayah lain sebagai bagian dari strategi efisiensi nasional.
Penyesuaian rute dan operasional dilakukan untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan serta meningkatkan efektivitas layanan penerbangan.
Hal ini menunjukkan bahwa penghentian Garuda Indonesia Bengkulu merupakan bagian dari kebijakan besar yang menyasar berbagai daerah dengan tingkat okupansi yang belum optimal.
Pihak Garuda Indonesia juga tidak menutup kemungkinan untuk kembali membuka rute Bengkulu di masa mendatang.
Hal ini bergantung pada perkembangan pasar dan peningkatan permintaan penumpang.
Evaluasi berkala akan terus dilakukan untuk melihat potensi pengoperasian kembali rute Bengkulu-Jakarta di masa depan.
Kondisi di Bandara
Dari pantauan langsung di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu pada Minggu (29/3/2026), tidak terlihat lagi aktivitas penerbangan Garuda Indonesia Bengkulu dalam daftar jadwal keberangkatan maupun kedatangan.
Jadwal penerbangan kini hanya diisi oleh beberapa maskapai lain seperti Citilink, Super Air Jet, dan Batik Air.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini