Iran Jagonya Perang Asimetris, Apakah Invasi Darat Pasukan Amerika Segera Terjadi?
Hasiolan Eko P Gultom March 29, 2026 09:17 PM

Iran Jagonya Perang Asimetris, Apakah Invasi Darat Pasukan Amerika Segera Terjadi?
 

TRIBUNNEWS.COM - Surat kabar Inggris, The Guardian dan surat kabar Amerika Serikat (AS), The Washington Post membahas kemungkinan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump melancarkan perang darat melawan Iran. 

The Guardian, dalam laporan oleh jurnalis Andrew Roth, merujuk kemungkinan ini pada pengerahan ribuan tentara AS ke Timur Tengah, termasuk dari satuan pasukan Marinir dan pasukan terjun payung (Paratroopers).

Baca juga: Pasukan Amerika Ditantang Perang Darat Masuk Iran, Trump Pikir-pikir: Mau Masuk Kalau Sudah Hancur

Pengerahan dua satuan tempur elite ini dinilai mencerminkan kesiapan AS untuk mengambil langkah militer.

"Meski begitu pengerahan satuan-satuan militer ini terkait dengan kemungkinan kegagalan jalur diplomatik dengan Iran, yang berarti bahwa opsi darat masih bersifat kondisional dan belum tentu akan segera terjadi," kata ulasan tersebut.

Roth menyatakan kalau pemerintahan Trump pada saat yang sama berusaha untuk menjaga jalur negosiasi tetap terbuka.

Hal itu sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahwa Washington percaya dapat mencapai tujuannya tanpa mengerahkan pasukan darat, yang menunjukkan keengganan politik yang jelas untuk terlibat dalam perang yang panjang dan mahal.

Adapun Washington Post, dalam laporannya oleh jurnalis Dan Lamothe, menyatakan kalau retorika politik yang hati-hati di AS tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.

Pentagon secara aktif mempersiapkan skenario operasi darat yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu di dalam Iran, termasuk serangan terbatas oleh pasukan khusus dan unit infanteri konvensional.

Washington Post menambahkan kalau operasi potensial ini bukan merupakan invasi skala penuh, melainkan termasuk dalam kategori operasi taktis terbatas yang bertujuan untuk mencapai tujuan spesifik dengan cepat.

Operasi semacam itu misalnya, seperti menghancurkan situs militer atau merebut lokasi strategis.

"Hal ini mencerminkan upaya untuk meminimalkan risiko tanpa mengesampingkan opsi operasi darat," kata ulasan tersebut.

PENUH RANJAU - Gambar tangkap layar citra fasilitas pengolahan minyak Iran di Pulau Kharg. Iran memperkuat pulau ini, memenuhinya dengan ranjau sebagai antisipasi niat Amerika Serikat menguasai pulau yang menjadi sentra energi Iran tersebut.
PENUH RANJAU - Gambar tangkap layar citra fasilitas pengolahan minyak Iran di Pulau Kharg. Iran memperkuat pulau ini, memenuhinya dengan ranjau sebagai antisipasi niat Amerika Serikat menguasai pulau yang menjadi sentra energi Iran tersebut. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Pulau Kharg Target Utama Operasi Darat AS di Iran

Terkait target operasi darat AS di Iran, The Guardian mencatat bahwa salah satu target paling menonjol yang sedang dipertimbangkan adalah Pulau Kharg, yang merupakan jalur vital bagi ekspor minyak Iran, karena sekitar 90 persen minyak mentah melewati pulau tersebut, menjadikannya target dengan nilai strategis tinggi dalam setiap eskalasi militer.

The Guardian mencatat bahwa menguasai pulau itu tidak akan mudah, karena pasukan AS dapat menghadapi perlawanan sengit, termasuk serangan pesawat tak berawak, serangan rudal, dan ranjau laut, di samping tantangan signifikan dalam mengamankan pulau tersebut setelah direbut, sehingga operasi tersebut sangat berisiko.

Baca juga: Pasukan Amfibi dan Marinir AS Segera Mendarat, Iran Perkuat Pulau Kharg Pakai Ranjau!

The Guardian juga menekankan kalau ukuran pasukan AS yang saat ini dikerahkan di wilayah tersebut tidak menunjukkan kesiapan untuk invasi skala besar, karena jauh lebih kecil daripada pasukan yang digunakan di Irak dan Afghanistan.

"Hal ini memperkuat hipotesis bahwa Washington lebih memilih operasi terbatas daripada perang skala penuh," kata ulasan tersebut.

Iran Ahli Perang Simetris

The Guardian menjelaskan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam perang asimetris, yang mempersulit intervensi darat apa pun, karena dapat menargetkan pasukan AS dengan berbagai cara.

Faktor ini meningkatkan kemungkinan jatuhnya korban jiwa di pihak AS dan membuat keputusan tersebut lebih sensitif secara militer dan politik.

Senada dengan itu, The Washington Post menyatakan bahwa opini publik Amerika merupakan titik tekanan yang signifikan, dengan jajak pendapat menunjukkan penentangan luas terhadap pengerahan pasukan darat di Iran.

Sekitar 62% warga Amerika menentang opsi ini, sehingga membatasi kemampuan pemerintah untuk memutuskan eskalasi.

The Washington Post menambahkan kalau beberapa pejabat AS memandang operasi darat terbatas sebagai cara untuk menciptakan pengaruh dan tekanan dalam negosiasi, baik untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz atau untuk membatasi kemampuan militernya. 

Hal ini menjelaskan pertimbangan berkelanjutan terhadap opsi ini meskipun berisiko.

The Guardian menyatakan kalau berlanjutnya serangan militer AS terhadap target-target Iran menunjukkan bahwa Washington siap untuk memperluas operasinya jika tidak mencapai tujuannya melalui cara lain, yang membuat kemungkinan intervensi darat sebagai opsi eskalasi tetap terbuka.

Baik The Guardian maupun The Washington Post menyimpulkan bahwa perang darat di Iran bukanlah sesuatu yang akan segera terjadi.

Meski begitu hal ini telah menjadi kemungkinan realistis yang sedang dipersiapkan, sehingga dapat digunakan jika diplomasi gagal atau konfrontasi meningkat, menempatkan kawasan tersebut dalam fase antisipasi yang hati-hati tanpa resolusi akhir.

 

 

(oln/twp/grdn/*)

 

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.