Oleh: Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Bulan ramadan baru saja meninggalkan kita ummat Islam.
Berbagai macam perasaan yang muncul dengan berlalunya bulan yang penuh berkah dan ampunan.
Bagi seorang muslim yang menyadari dan memahami keberadaan ramadan merasa sedih.
Perpisahan ini telah menutup pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Tangis haru ditinggalkan bulan yang belum tentu kita akan menjumpainya kembali.
Setiap manusia tidak ada yang tahu, kapankah akan berakhir catatan kehidupannya.
Ramadan membentuk karakter manusia menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Sekiranya hal itu tidak terbentuk maka perlu dipertanyakan bagaimana ummat Islam mengamalkan ramadan itu.
Ceramah-ceramah pencerahan disampaikan setiap malam di masjid dan musala.
Belum lagi di kantor-kantor dilakukan secara insidentil.
Demikian pula media penyiaran televisi dan radio turut serta menyerbarluaskannya.
Kehadiran media sosial pun dijadikan ajang penyampai informasi religius.
Tukar-menukar atau sekadar meneruskan dari sumber-sumber lain.
Jagat maya ramai dengan perbincangan-perbincangan religi.
Dalam kelompok dosen lewat WA terkadang penulis mendapatkan informasi pencerahan dari akademisi yang di luar bidang keilmuannya.
Ini sungguh kemampuan luar biasa yang jarang ditemui.
Namun tetap terlihat bobotnya.
Ada seorang akademisi yang berlatar-belakang kedokteran gigi.
Namun tulisan-tulisannya dapat berisi pesan-pesan religi.
Bahkan lebih hebat lagi dapat menciptakan lagu, multitalenta.
Terkadang ada juga candaan dari kelompok penggemar kopi.
“Ayo kita minum kopi sambil menantikan buka puasa,” katanya.
Ramadan telah berlalu. Berbagai kesan telah tertinggal di hati.
Ada yang menangis sedih karena ditinggalkan.
Ada yang senang karena merasa telah terbebas dari larangan makan-minum dan lainnya.
Penentuan awal dan akhir ramadan melalui beberapa metode.
Akibatnya adalah muncul perbedaan menyikapinya.
Ada yang melihat pasang-surut air laut.
Ada yang menggunakan metode hisab.
Begitu pula para penganut metode rukyat.
Masing-masing kelompok ini memiliki keyakinan yang berbeda-beda menyikapi awal dan akhir ramadan.
Bagi penganut medode hisab berkeyakinan bahwa ribuan tahun sudah dapat ditentukan kapan awal dan akhir ramadan.
Sementara pengikut metode rukyat sangat tergantung bagaimana mereka melihat hilal atau bulan.
Ada ukuran tertentu untuk mengakui awal dan akhir ramadan terjadi.
Dua kelompok besar ini berkeyakinan dengan masing-masing metode yang digunakan.
Makanya tahun ini tetap ada perbedaan awal dan akhir ramadan.
Ada kelompok lain dari kelompok besar di atas, yakni penganut metode isap dan rujak.
Kelompok ini tetap mengisap rokok ketika dua kelompok besar di atas menghindari merokok saat berpuasa.
Sekaligus kelompok rujak, karena makan apa saja yang ada di depannya, tanpa merasa risih dan berdosa di hadapan orang berpuasa.(*)