Asap pekat mulai membumbung dari tumpukan kayu gelondongan yang sudah berbulan-bulan teronggok di tengah perkebunan sawit.
SERAMBINEWS.COM - Langit sore di Dusun Teungoh, Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, pada Jumat (27/3/2026), berubah muram.
Asap pekat mulai membumbung dari tumpukan kayu gelondongan yang sudah berbulan-bulan teronggok di tengah perkebunan sawit.
Kayu-kayu itu dulunya hanyalah sisa banjir besar yang melanda wilayah tersebut.
Namun setelah mengering selama hampir tiga bulan, ia menjelma menjadi bahan bakar sempurna bagi api yang kemudian menciptakan bencana baru.
Api yang awalnya kecil segera membesar.
Angin kencang yang berhembus di kawasan Sungai Terusan Arakundo membuat kobaran api merambat cepat, melahap batang demi batang pohon sawit.
Dalam hitungan jam, sekitar 14 hektare (Ha) kebun sawit milik warga ludes terbakar.
Warga yang menyaksikan dari kejauhan menggambarkan pemandangan itu seperti “neraka di siang hari.”
Baca juga: Sudah Sebulan Tumpukan Kayu Sisa Banjir Bandang di Aceh Tamiang Keluarkan Asap
Keuchik Buket Linteung, Mansur, masih terkejut ketika menceritakan kembali peristiwa itu.
“Pagi tadi kami ke lokasi lagi, ternyata sudah ludes terbakar,” ujarnya dengan nada getir.
Ia menambahkan, api memang berasal dari tumpukan kayu sisa banjir yang berada di tengah areal perkebunan.
Tanaman sawit yang masih tersisa pun tak mampu bertahan dari amukan api.
Kepanikan melanda warga sekitar.
Mereka berusaha menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, namun api terlalu cepat meluas.
Tidak ada yang tahu pasti apakah kebakaran ini murni akibat kondisi kayu yang kering atau ada faktor lain yang memicu.
“Saya tidak tahu apakah ini dibakar atau tidak, karena kami tidak melihat langsung sumber apinya,” kata Keuchik Mansur.
Kebakaran ini menambah deretan luka pascabanjir yang sebelumnya menghantam wilayah Langkahan.
Baca juga: Kebakaran Tumpukan Kayu Banjir di Langkahan Aceh Utara Terus Meluas, Merambah ke Kebun Sawit
Banjir telah merusak rumah warga dan meninggalkan material kayu dalam jumlah besar. Kini, kayu sisa banjir itu justru menjadi sumber bencana baru.
Hingga Minggu (29/3/2026) malam, api dilaporkan belum sepenuhnya padam.
Bara masih menyala di sejumlah titik, menimbulkan kekhawatiran akan kebakaran susulan.
Bagi warga Buket Linteung, peristiwa ini bukan sekadar kehilangan kebun sawit.
Ini adalah pukulan berlapis: banjir yang menghancurkan, lalu kebakaran yang meluluhlantakkan harapan.
Di tengah kepulan asap dan batang sawit yang hangus, mereka hanya bisa berharap agar pemerintah segera turun tangan, membantu memadamkan api, sekaligus mencari solusi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Kisah kebakaran di Langkahan menjadi pengingat bahwa bencana alam sering meninggalkan jejak panjang.
Kayu sisa banjir yang tak tertangani bisa berubah menjadi ancaman baru.
Dan bagi warga yang hidup dari kebun sawit, api yang melahap 14 hektare lahan bukan hanya kehilangan harta, melainkan juga masa depan.(*)