18.746 Korban Banjir di Aceh Utara Bertahan di Pengungsian, Pemkab Salurkan Bantuan Logistik
Saifullah March 30, 2026 01:03 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada penghujung November 2025 lalu, menyisakan duka berkepanjangan bagi para korban.

Sebab, hingga akhir Maret 2026, dampak besar dari banjir bandang tersebut masih terasa berat bagi masyarakat.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, tercatat sebanyak 18.746 jiwa atau 5.174 kepala keluarga (KK), masih bertahan di pengungsian.

Para korban banjir ini tersebar pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara.

Sebagian tinggal di gubuk darurat dengan terpal seadanya, sebagian menumpang di rumah keluarga, dan ada pula yang terpaksa menyewa rumah.

Banjir ini sebelumnya berdampak luas pada 696 gampong di 27 kecamatan, dengan total 124.549 KK atau 433.064 jiwa terdampak. 

Kecamatan Langkahan menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, mencapai 12.824 jiwa dari 3.476 KK.

Baca juga: Korban Banjir Bertahan di Gubuk Darurat Beratap dan Dinding Terpal

Selain itu, Kecamatan Sawang mencatat 2.155 jiwa pengungsi, Muara Batu 1.024 jiwa, dan Tanah Jambo Aye 936 jiwa.

Kecamatan Seunuddon dan Lapang juga masih menampung ratusan pengungsi, masing-masing 663 dan 625 jiwa.

Beberapa kecamatan lain seperti Baktiya, Dewantara, dan Nibong juga melaporkan adanya pengungsi meski jumlahnya lebih kecil.

Dampak banjir ini tidak hanya berupa kerugian material, tetapi juga korban jiwa. 

Hingga kini, tercatat 248 orang meninggal dunia dan tiga orang masih dinyatakan hilang.

Kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas juga menjadi bagian dari pengungsi, sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Aceh Utara, Fauzan, MAP menegaskan, bahwa pihaknya terus berupaya memberikan penanganan darurat dan bantuan logistik. 

Namun, sebagian besar pengungsi masih bertahan di lokasi darurat sambil menunggu pembangunan hunian sementara maupun bantuan lanjutan dari pemerintah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasca-banjir masih membutuhkan waktu panjang dan dukungan dari berbagai pihak.

Baca juga: Ekonomi Korban Banjir Lumpuh Pasca Bencana, Bantuan Dijanjikan  Pemerintah Pusat belum Disalurkan

Peristiwa banjir di Aceh Utara menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. 

Selain memperkuat sistem peringatan dini, pemerintah daerah juga diharapkan mempercepat pembangunan hunian sementara agar para pengungsi dapat segera kembali hidup dengan layak.

Solidaritas masyarakat dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan.

Sehingga ribuan warga yang terdampak dapat segera bangkit dari musibah besar ini.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.