BANJARMASINPOST.CO.ID – Kubah Datu H Abdullah berada di Desa Jumba Amuntai Selatan menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Bukan hanya warga Hulu Sungai Utara yang kerap berziarah ke ulama dan pejuang di Amuntai ini.
Namun tak sedikit warga luar kabupaten Hulu Sungai Utara yang melakukan ziarah. Bahkan luar provinsi Kalimantan Selatan.
Hal ini mengingat pula banyak keturunan Datu H Abdullah yang kini tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.
Tidak heran Bupati Sahrujani pun tak menampik kubah Datu H Abdullah menjadi salah destinasi wisata religi di Hulu Sungai Utara (HSU)
Bahkan Sahrujani mendukung kalau makam Datu H Abdullah menjadi salah satu cagar budaya.
Namun tentunya untuk ditetapkan menjadi cagar budaya harus melalui prosedur.
Baca juga: Angka Kekerasan Anak dan Perempuan di Banjarmasin 2025 Meningkat Drastis, Capai Ratusan Korban
Baca juga: Satu Rumah Hangus Terbakar di Banjarmasin Barat, Penyebab Masih Diselidiki
“Ulun dukung diusulkan menjadi cagar budaya,” ucap Sahrujani saat menghadiri Haul Datu H Abdullah di Desa Jumba Amuntai Selatan, Senin (23/3/2026) kemarin.
Sahrujani yang datang bersama Wakil Bupati Hero Setiawan juga mendukung untuk pembuatan jalan tembus dari Desa Jumba ke Sungai Malang untuk mempermudah warga Amuntai untuk berziarah ke kubah Datu H Abdullah.
“Pembakal, lurah dan camat ulun ingatkan untuk pembuata jalan tembus kubah ini dikawal,” kata Sahrujani.
Dalam kesempatan haul kemarin, Sahrujani juga bersyukur bisa menghadiri haul dan sekaligus bersilatuahmi dengan warga Amuntai Selatan.
Haulan Datu H Abdullah sudah menjadi kebiasaan dilakukan pada setiap 3 Syawal.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, dihadiri oleh tokoh agama Guru Fauzi, tokoh masyarakat, serta jemaah yang datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Tampak hadir pula sejumlah zuriat dari Datu H Abdullah diantaranya H Abdul Latief Hanafiah, H Muhammad Indra Putera anak dari mantan Bupati Batola, Eddy Sukarma dan juga perwakilan dari mantan Wagub Kalsel Rudy Resnawan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati H. Sahrujani menyampaikan bahwa kegiatan haul seperti ini memiliki makna penting, tidak hanya untuk mendoakan para ulama terdahulu, tetapi juga sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kita diingatkan kembali akan perjuangan dan jasa para ulama seperti Datu H. Abdullah, yang telah memberikan kontribusi besar bagi daerah dan bangsa. Semoga kita dapat meneladani semangat perjuangan dan keikhlasan beliau,” ujarnya.
Baca juga: Belasan Tahun, Anyaman Daun Nipah Jadi Sumber Penghasilan Keluarga Perajin di Banjarmasin
Datu Abdullah merupakan tokoh pahlawan di HSU yang gugur dalam perlawanan penjajah Belanda.
Tokoh ini tak mau bersekutu dengan Belanda hingga akhirnya tewas ditembak pasukan Belanda.
Salah seorang zuriat Datu Abdullah, Abdul Latief Hanafiah mengatakan, Datu Abdullah gugur dalam perang Banjar 15 September 1860 di Sungai Malang,Amuntai Tengah.
Ulama Datu Abdullah memimpin pertempuran puputan bersama Panglima Hampang melawan penjajah Belanda.
Sejarah ini disalin Saleh yang juga salah zuriat Datu Abdullah dari Buku Banjarmasinsche Krijg oleh Van Rees.
Dipaparkan setelah proklamasi 11 Juni 1860 tentang penghapusan Kesultanan Banjar diumumkan oleh pemerintah Hindia Belanda, maka wilayah-wilayah Kesultanan Banjar mulai dikuasai penjajah termasuk di Amuntai, Hulu Sungai Utara.
Kala itu rakyat Amuntai masih setia kepada Kesultanan Banjar maka sering terjadi gangguan, cegatan, dan penghancuran kepada konvoi Belanda yang berani berpatroli di sekitar Amuntai.
Salah satu pimpinan perlawanan yang terkenal adalah Datu Haji Abdullah. Seorang alim ulama dan ahli menggerakkan aksi massa.
Beliau sering menggelorakan semangat perang sabil untuk jangan menyerah dari masjid ke masjid sekeliling Amuntai.
Baca juga: Keutamaan Puasa di Bulan Syawal Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat, Bukti Meningkatnya Ibadah
Saat itu Belanda sudah sangat kewalahan mengalami aksi pencegatan oleh pasukan Haji Abdullah.
Pada suatu sergapan di Sungai Banar, Haji Abdullah tertembak peluru Belanda di bagian paha dan terpaksa seluruh pasukannya mundur ke Kampung Sungai Malang.
Asisten Residen van Oijen mengetahui informasi ini dan mengirimkan 3 peleton tentara bersenjata lengkap ke Sungai Malang.
Ketiga peleton ini dipimpin oleh perwira Belanda yang berpengalaman yaitu Letnan van Emde, Letnan Verspyck dan Letnan van Der Wijck.
Tiga peleton berangkat dari Amuntai menuju Sungai Malang tidak dengan rombongan tambur dan terompet tetapi mengendap diam-diam.
Tiga orang Letnan Belanda hanya didampingi beberapa tentara sedangkan sisanya berpencar dengan formasi sembunyi.
Pada tanggal 15 September 1860 mereka sampai di rumah Haji Abdullah di Sungai Malang, Amuntai.
Rombongan Belanda ditemui anak Haji Abdullah, Haji Yusip dan Sungit.
Saat itu Letnan van Emde mengatakan hanya ingin melihat keadaan tokoh ulama Haji Abdullah dan menawarkan bantuan untuk dibawa ke Amuntai dirawat dokter.
Tetapi Haji Abdullah tidak percaya karena Belanda sudah sangat sering melakukan tipu daya.
Sementara itu tiga peleton Belanda sudah diam-diam mengepung rumah Haji Abdullah.
Haji Abdullah berfirasat kurang enak mengenai niat Belanda ini dan segera menyiagakan 19 orang pasukannya berjaga di seluruh rumah.
Letnan van Emde memaksa untuk membawa tandu Haji Abdullah keluar rumah, dijawab oleh Haji Abdullah, "baik, bulih cuba bawa, kalau kawa!"
Van Emde dengan pedang di tangan dikelilingi 15 orang tentara Belanda memaksa masuk rumah.
Baca juga: Polda Kalsel Catat Penurunan Angka Kecelakaan Lalu Lintas Selama Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026
Tidak berapa lama terdengar teriakan Haji Abdullah, "fi sabilillah ! Subhanallah ! Allahu Akbar !"
Mendengar seruan itu ke 19 anak buah Haji Abdullah merapatkan barisan dengan parang bungkul terhunus dan langsung menyerang pasukan Belanda.
Seketika terjadi pertempuran jarak dekat dan dari luar rumah keluar tiga peleton Belanda yang telah mengepung ikut dalam pertempuran. Letnan van Emde tewas beserta 5 orang tentara lainnya.
Karena pasukan Haji Abdullah harus menghadapi jumlah musuh yang lebih besar maka mereka semua akhirnya harus gugur dalam pertempuran termasuk 4 orang pejuang wanita yaitu Aisyah, Hadijah, Kalimah, Bulan.
Seluruh pasukan Haji Abdullah gugur dalam medan perang pada peristiwa pembantaian di Sungai Malang Amuntai. Haji Abdullah dan para syuhada dimakamkan di Desa Jumba, Telaga Silaba, Amuntai, Hulu Sungai Utara.
Ditambahkan Latief Hanafiah, Datu Abdullah gugur bersama 24 pasukan da keluarga termask istri dan anak-anaknya yang dikubur dikubur bersama dalam satu lubang di Jumba.
"Satu-satunya anak yang selamat adalah Matarip saat itu berusia 9 tahun. Saat itu Matarip bersembunyi dan mengintip di atas pohon," ucap Latief.
Matarip mempunyai keturunan bernama Sanang. Hingga kini keturunan dari Matarip anak Datu Abdullah tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Latief mengatakan kalau dalam sejarah terungkap kalau Datu Abdullah gugur dalam peperangan pada tanggal 15 September 1860 M bertepatan 27 Safar 1277 Hijriah.
"Namun untuk haulnya biasanya dilakukan setiap 3 Syawal mengingat masih dalam suasana lebaran biasanya keturunan banyak berada di Amuntai," ucap Latief Hanafiah.
Latief membenarkan kalau beberapa keturunan H Datu Abdullah adalah mantan Menteri Agraria di era Soekarno, H Mohammad Hanafiah, termasuk pula mantan Wali Kota Banjarbaru, Rudy Resnawan, mantan Bupati Batola Eddy Sukarma hingga mantan Gubernur Kaltim A Wahab Syahrani. (banjarmasinpost/m risman noor)