Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Mulyono (54), warga Kota Bengkulu, membagikan kisah perjuangannya menjalani cuci darah selama kurang lebih 10 tahun akibat gagal ginjal stadium lima.
Selama 10 tahun terakhir, Mulyono menggunakan BPJS Kesehatan untuk menjalani cuci darah.
Dengan senyuman, Mulyono membagikan kisahnya berjuang menjalani cuci darah selama 10 tahun ini.
Kondisi dan Aktivitas Sehari-hari
Mulyono mengatakan, saat ini dirinya berstatus sebagai wiraswasta dengan usaha kecil-kecilan di rumah.
Ia yang tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan mandiri kelas 3.
“Alhamdulillah sekarang ada usaha sedikit-sedikit di rumah. Saya peserta mandiri kelas 3,” ungkap Mulyono saat ditanya TribunBengkulu.com di ruang Hemodialisis atau ruang cuci darah di RS Rafflesia, Kota Bengkulu, Senin (30/3/2026) pukul 10.06 WIB.
Rutinitas Cuci Darah
Ia mengungkapkan, dirinya mulai menjalani cuci darah sejak sekitar satu dekade lalu dan hingga kini masih rutin dilakukan dua kali dalam sepekan.
“Sudah jalan 10 tahun, Alhamdulillah. Seminggu dua kali cuci darah,” tutur Mulyono.
Riwayat Pekerjaan
Mulyono menceritakan, sebelum mengalami sakit, ia bekerja sebagai operator di perusahaan tambang batu bara di Bengkulu.
Pola kerja di lokasi tambang yang berlangsung hingga 24 jam membuatnya harus menjaga stamina tubuh.
Kala itu, ia mengaku sering mengonsumsi minuman berenergi untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tetap kuat bekerja, terutama saat harus terjaga dalam waktu lama.
“Kerja di tambang itu kan bisa sampai 24 jam. Jadi untuk menahan supaya tetap kuat dan tidak mengantuk, saya terpaksa mengonsumsi minuman energi,” jelas Mulyono.
Awal Mula Sakit
Namun, kebiasaan tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan kesehatan, terutama pada bagian ginjal.
Saat memasuki usia sekitar 46 tahun, ia mulai merasakan kondisi tubuh yang tidak normal.
Awalnya, gejala yang dirasakan dianggap sebagai sakit biasa.
Namun, setelah menjalani pemeriksaan medis, ia didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium lima dan harus segera menjalani cuci darah.
“Awalnya terasa badan tidak enak, saya kira sakit biasa. Setelah diperiksa, ternyata ginjal sudah bermasalah dan harus cuci darah. Sudah stadium lima,” kata Mulyono.
Peran BPJS Kesehatan
Kini, Mulyono rutin melakukan cuci darah, beruntungnya, Mulyono sudah mendaftarkan diri di BPJS Kesehatan sejak 10 tahun terakhir.
Hingga kini, Mulyono untuk cuci darah ditanggung oleh BPJS Kesehatan selama 10 tahun terakhir.
Dengan begitu, urusan berobat Mulyono berjalan lancar, ia mengungkapkan selama menjalani pengobatan dengan menggunakan BPJS Kesehatan tak dipersulit.
“Sekarang rutin untuk cuci darah pakai BPJS Kesehatan, kalau layanan nya Alhamdulillah lancar, berobat langsung dilayani, untuk biaya ditanggung BPJS Kesehatan, kadang telat bayar BPJS terlambat, dirinya tak dipersulit,” papar Mulyono.
Harapan dan Pesan
Mulyono kini hanya bisa menjalani pengobatan secara rutin sembari tetap berusaha menjalankan aktivitas sehari-hari dengan kondisi yang ada.
Ia pun berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih menjaga kesehatan, terutama dalam pola konsumsi dan gaya hidup.
Kemudian, untuk pelayanan di rumah sakit dan layanan BPJS Kesehatan dapat lebih ditingkatkan.
Tak hanya itu, Mulyono juga mengajak masyarakat untuk tidak menunggak pembayaran BPJS Kesehatan agar masyarakat yang lain dapat berobat dengan gratis.
“Harapan nya kedepan layanan di rumah sakit dan BPJS Kesehatan lebih baik lagi, untuk saat ini saya sudah puas dengan layanan yang ada, diharapkan masyarakat tak menunggak pembayaran BPJS,” tutup Mulyono.