Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Kecelakaan tragis yang menimpa rombongan pengantin di Bengkulu Tengah kembali memakan korban jiwa.
Hingga kini, tercatat tiga orang meninggal dunia setelah mobil yang ditumpangi terjun ke jurang, sementara korban lainnya mengalami luka-luka.
Jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan mobil L300 yang membawa rombongan pengantar pengantin di Kecamatan Bang Haji, Bengkulu Tengah bertambah, pada Senin (30/3/2026).
Satu korban meninggal dunia menyusul setelah sebelumnya dua orang dinyatakan tewas di lokasi kejadian.
Kecelakaan terjadi pada Minggu (29/3/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB di ruas jalan provinsi antara Desa Layang Lekat dan Desa Sekayun, jalur yang berada di kawasan perbukitan dengan tikungan jalan.
Anggota DPRD Bengkulu Tengah sekaligus keluarga korban, Jon Karnedi, mengatakan hingga saat ini kronologi pasti kejadian masih belum dapat dipastikan.
“Untuk kronologisnya kami belum bisa menyampaikan secara pasti, namun kejadian itu terjadi sekitar jam 9 pagi di jalan lintas provinsi antara Layang Lekat dan Sekayun,” kata Jon Karnedi kepada TribunBengkulu.com, saat diwawancarai di rumah duka, Senin (30/3/2026).
Saat wartawan TribunBengkulu.com datang ke rumah duka yang berada di Desa Sekayun Mudik, Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah.
Baca juga: Breaking News: Siswa SMAN 2 Bengkulu Selatan yang Hanyut di Lubuk Langkap Ditemukan Tewas
Tiga tenda duka berdiri hampir berdampingan dengan jarak hanya 100 meter di setiap rumah duka.
Sejumlah pelayat datang hilir mudik, bergantian dari satu rumah ke rumah yang lain.
Sementara keluarga korban tampak duduk di rumah masing-masing menerima tamu dengan raut kesedihan di wajahnya.
Menurut keterangan keluarga, mobil yang membawa rombongan tersebut dikemudikan oleh Ansori, yang juga menjadi salah satu korban meninggal dunia.
Kendaraan tersebut merupakan bagian dari iring-iringan rombongan pengantar pengantin menuju Desa Bajak Dua, Kecamatan Taba Penanjung.
“Almarhum Ansori yang menyetir mobil, beliau diminta tolong untuk membawa kendaraan rombongan,” ujarnya.
Jon menjelaskan, kondisi jalan di lokasi kejadian berada di tikungan yang kemudian memasuki jalur lurus.
“Di lokasi itu tikungan, tapi tidak jauh dari situ sudah lurus. Bukan tanjakan,” katanya.
Kendaraan diduga tidak melaju kencang saat kejadian.
“Kalau dari keluarga yang ikut rombongan, kecepatan sekitar 30 kilometer per jam. Kemungkinan lepas kontrol,” jelasnya.
Awalnya, dua korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, yakni Ansori dan Jahari.
Namun, pada Minggu malam setelah waktu Maghrib, satu korban lain, Mar’ah, yang merupakan ibu dari Jahari, juga meninggal dunia.
“Total korban meninggal dunia menjadi tiga orang, yaitu Ansori, Jahari, dan Mar’ah,” kata Jon.
Sementara itu, dua korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit, terdiri dari satu anak-anak dan satu orang dewasa.
Dalam peristiwa ini, Jahari diketahui merupakan ayah kandung dari pengantin.
Saat kejadian, pengantin tidak berada di dalam mobil karena memilih menggunakan sepeda motor.
“Pengantin tidak ikut di mobil karena mabuk perjalanan, jadi naik sepeda motor,” ujarnya.
Usai kecelakaan, seluruh korban langsung dibawa ke rumah sakit oleh keluarga untuk mendapatkan pertolongan.
Meski diliputi duka, prosesi pernikahan tetap dilaksanakan di Desa Bajak Dua.
Namun setelah akad nikah, pengantin laki-laki langsung kembali ke rumah untuk mengurus jenazah ayahnya.
Jon Karnedi juga mengenang sosok kakaknya, Ansori, sebagai pribadi yang pekerja keras dan menjadi panutan dalam keluarga.
“Beliau sosok yang baik, pekerja keras, dan menjadi panutan bagi kami, khususnya saya sebagai adik kandungnya,” ujarnya.
Ansori diketahui bekerja sebagai petani dan meninggalkan seorang istri serta tiga orang anak.
“Kami tidak menyangka beliau pergi secepat ini. Tapi kami ikhlas, Allah lebih sayang beliau,” kata Jon.
Keluarga berharap doa dan dukungan dari masyarakat atas musibah yang mereka alami.
“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat atas musibah ini,” tutupnya.