Kadis Pendidikan Bone Bolango Janji Ajukan Lagi Perbaikan SDN 7 Bulango Utara
Wawan Akuba March 30, 2026 04:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango -- Riwayat penolakan pengelolaan anggaran perbaikan menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi SDN 7 Bulango Utara, Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, belum sepenuhnya pulih hingga kini.

Meski begitu, Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango memastikan upaya perbaikan kembali didorong melalui pengajuan baru ke pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango Basir Noho mengungkapkan bahwa sekolah tersebut sebelumnya sudah pernah mendapatkan alokasi bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), namun tidak terealisasi.

“SDN 7 Bulango Utara ini memang sudah beberapa kali mengalami kebakaran. Sebelumnya juga sudah pernah dialokasikan bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK),” ujar Basir Noho saat diwawancarai, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Banyak Sekolah Tak Layak, Bone Bolango Usulkan 50 Sekolah Direvitalisasi pada 2026

Menurutnya, pada saat itu pihak sekolah belum siap untuk mengelola dana yang diberikan.

“Waktu itu pihak sekolah belum bersedia untuk melakukan pengelolaan dana. Kemudian kita ajukan kembali di tahun berikutnya, tapi masih ada keraguan juga untuk melakukan perbaikan,” jelasnya.

SEKOLAH--Wawacara dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, Basir Noho, Senin (30/3/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga.
SEKOLAH--Wawacara dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, Basir Noho, Senin (30/3/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. (TribunGorontalo.com)

Dinas Pendidikan juga sempat mencoba mengalokasikan anggaran melalui Dana Alokasi Umum (DAU), namun kembali terkendala sehingga bantuan belum bisa disalurkan.

“Kami sudah upayakan lewat DAU, tapi masih ada kendala dari pihak sekolah, sehingga sampai hari ini belum teralokasi,” katanya.

Akibat berbagai kendala tersebut, satu ruang kelas yang terbakar pada Selasa (3/5/2022) sekitar pukul 16.00 Wita masih dalam kondisi rusak hingga sekarang.

Dari tiga ruang kelas yang terdampak kebakaran, dua telah diperbaiki secara bertahap, sementara satu ruang lainnya belum tersentuh perbaikan.

Kondisi ini membuat siswa kelas 1 harus belajar di ruang perpustakaan dengan fasilitas terbatas.

Kepala sekolah, Salma Podungge, mengakui kondisi tersebut berdampak pada kenyamanan belajar siswa.

“Anak-anak belajar di perpustakaan, penataannya tidak seperti ruang kelas, jadi kadang mereka cepat bosan,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi belajar menjadi lebih sulit saat hujan.

“Kalau hujan, air masuk. Anak-anak belajar dalam kondisi tidak nyaman,” katanya.

Selain ruang kelas, sejumlah fasilitas lain juga membutuhkan perbaikan, seperti lantai perpustakaan yang belum berkeramik, plafon rusak, serta toilet siswa yang terdampak kebakaran.

Saat ini, seluruh warga sekolah masih menggunakan satu toilet secara bersama.

Keterbatasan juga terlihat dari belum tersedianya perangkat komputer untuk pembelajaran berbasis digital.

Di sisi administrasi, sekolah juga menghadapi kendala dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

“Untuk membuat RAB biasanya harus melibatkan konsultan, sementara dana sekolah terbatas,” ujar Salma.

Dengan jumlah siswa sekitar 60 orang, sekolah hanya menerima dana operasional sekitar Rp50 juta per tahun.

Keluhan juga disampaikan orang tua siswa yang berharap perbaikan segera dilakukan.

“Kadang anak jadi malas belajar karena ruang kelasnya tidak memadai. Harusnya pendidikan jadi prioritas,” ujar Adi Akuba.

“Harapannya ada ruang kelas yang layak supaya anak-anak lebih semangat ke sekolah,” katanya.

Saat ini, Dinas Pendidikan kembali membuka peluang perbaikan dengan mendorong sekolah mengajukan melalui program revitalisasi yang bersumber dari APBN.

“Kalau kondisi hari ini belum juga teralokasi, maka kami minta pihak sekolah untuk mengajukan melalui program revitalisasi. Nanti kita pastikan apakah bisa masuk tahun ini atau tahun depan,” ujar Basir.

Ia berharap pengajuan ulang tersebut bisa segera membuahkan hasil agar proses belajar mengajar berjalan lebih baik.

“Harapannya tentu bisa segera terakomodir, sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan lebih nyaman,” tambahnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.