Tak Ada Menu Prasmanan, Silaturahmi Idulfitri di Kepatihan Yogya Jadi Berkah Bagi Pedagang Kecil
Muhammad Fatoni March 30, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Deretan gerobak angkringan, soto, hingga dawet beserta aneka minuman tradisional khas Yogyakarta berjajar rapi menyambut ribuan warga yang rela mengantre sejak pagi di halaman depan Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bangsal Kepatihan, Kota Yogyakarta, Senin (30/3/2026). 

Pemandangan yang menggugah selera ini menjadi wajah baru yang bersahaja dalam momen perjumpaan antara masyarakat dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.

Setelah sempat ditiadakan pada tahun sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY kembali menggelar acara silaturahmi ini dengan konsep yang jauh dari kesan mewah.

Tradisi jamuan prasmanan yang biasa digelar pada tahun-tahun sebelumnya kini digantikan oleh pemberdayaan pedagang kecil.

Kebijakan ini langsung dirasakan manfaatnya oleh para pedagang, salah satunya Parjono, pedagang angkringan asal Gunungkidul yang sehari-harinya berjualan di sekitar Giwangan, Kota Yogyakarta.

Ia menyajikan aneka menu seperti nasi kikil, nasi oseng tempe, nasi sambel teri, gorengan, dan sate.

Parjono tidak bekerja sendiri, ia melibatkan tetangganya untuk memasok makanan guna berbagi rezeki.

"Baru pertama kali ini, Alhamdulillah ya rombongan kami dilibatkan diundang ketua panitia. Kami bersyukur diajak, ke sini. Saya gandeng UMKM di sekitar lingkungan saya. Saya gandeng UMKM di sekitar kami, jadi berdampak ke masyarakat sekitar. Aslinya kepengen sekali bersalaman dengan Ngarsa Dalem, tetapi berhubung menunggu angkringan ini, ya kalau ada kesempatan mau sekali bersalaman," ungkap Parjono.

Baca juga: Berburu Berkah di Kepatihan: Ribuan Warga Antre Berjam-jam Demi Salaman dengan Sultan dan Paku Alam

Antusiasme serupa diutarakan oleh Gunarto, pedagang soto yang biasa berjualan di Plengkung Wijilan.

Usai ditawari oleh panitia, ia langsung menyiapkan 300 porsi soto ayam untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang hadir.

"Kemarin siang kami persiapan. Pagi tadi meluncur ke sini," ujar Gunarto.

Makna Ganda

Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya (Koordinator Humas) IKP Dinas Kominfo DIY, Ditya Nanaryo Aji, menegaskan bahwa acara ini memiliki makna ganda. 

Selain merayakan Idul Fitri, momentum ini sekaligus memperingati Hari Jadi ke-271 DIY.

"Ini kesempatan masyarakat untuk bisa bertemu Gubernur dan Wakil Gubernur. Hari jadi DIY di tanggal 13 Maret kemarin, kan masih dalam suasana Ramadhan. Jadi ini kita bungkus, jadikan satu di tanggal 30 besok dengan tajuk Silaturahmi Idul Fitri 2026," jelas Ditya.

Ribuan warga mengular mengantre di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Senin (30/3/2026), untuk bersilaturahmi dan bersalaman dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peringatan Hari Jadi ke-271 DIY. Dalam foto ini, terlihat warga berdesakan dan menggunakan berbagai pelindung panas seadanya, termasuk kardus, payung, tas
Ribuan warga mengular mengantre di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Senin (30/3/2026), untuk bersilaturahmi dan bersalaman dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peringatan Hari Jadi ke-271 DIY. Dalam foto ini, terlihat warga berdesakan dan menggunakan berbagai pelindung panas seadanya, termasuk kardus, payung, tas (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Lebih lanjut, Ditya memaparkan bahwa pelibatan puluhan pedagang kecil merupakan strategi Pemda DIY untuk memastikan perputaran roda ekonomi di tingkat bawah.

"Kami menggandeng UMKM. Bentuknya nanti akan ada angkringan yang disediakan untuk masyarakat dengan jumlah sekitar 70 UMKM. Jadi, 70 itu angkringan, gerobak, dan UMKM. Kita kembalikan dari masyarakat untuk masyarakat dengan menggandeng UMKM. Semangatnya silaturahmi dengan kesederhanaan, dan harapannya ekonomi juga tetap berputar," tambahnya.

Aturan Panitia

Meski terbuka untuk umum, Pemda DIY memberlakukan sejumlah aturan ketat demi menjaga ketertiban dan kelancaran acara.

Warga hanya diperkenankan bersalaman dengan Sri Sultan HB X, GKR Hemas, KGPAA Paku Alam X, serta Gusti Putri.

Selain itu, pengunjung diwajibkan berpakaian sopan dan dilarang mengenakan sandal.

Guna menghindari antrean yang mandek, warga juga dilarang melakukan swafoto (selfie) atau merekam video secara mandiri saat bersalaman.

"Nanti ada tim dari Humas Pemda yang akan mengambil foto. Hasilnya akan dibagikan ke masyarakat melalui link untuk di-download," pungkas Ditya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.