4 Anggota TNI Resmi Ditahan, Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus yang Terancam Buta Permanen
Rita Lismini March 30, 2026 09:36 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Misteri di balik kasus penyiraman cairan asam terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, akhirnya mulai terkuak.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegaskan bahwa data yang dipegang oleh Polda Metro Jaya maupun pihak TNI merujuk pada sosok yang identik, meski awalnya sempat muncul perbedaan inisial pelaku.

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P Siagian, menjelaskan bahwa perbedaan inisial hanyalah masalah teknis penamaan.

"Perbedaan inisial itu kami konfirmasi bukan perbedaan signifikan, mereka mengatakan itu orang yang sama kira-kira gitu," ujar Saurlin di Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).

Kolaborasi Lintas Institusi

Polda Metro Jaya telah menyerahkan dokumen krusial dan bukti fisik kepada TNI untuk memperkuat penyidikan.

Fokus penyelidikan kini tidak hanya pada eksekutor lapangan, tetapi juga menelisik potensi keterlibatan perwira TNI lain maupun pihak non-militer. 

Saurlin menegaskan, pengawasan terhadap proses penyelidikan tetap dilakukan secara ketat.

Kronologi dan Identitas Terduga Pelaku

Serangan terhadap Andrie Yunus terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, di kawasan Senen, Jakarta Pusat, yang menyebabkan luka bakar serius di wajah, mata, dada, dan tangan. Berdasarkan investigasi internal TNI, empat prajurit dari satuan Denma Bais TNI diduga terlibat, yakni:

  • Kapten NDP
  • Lettu SL
  • Lettu BHW
  • Serda ES

Mayor Jenderal TNI Yusri Nuryanto menyatakan bahwa keempat oknum kini telah diamankan di Pomdam Jaya untuk proses hukum lebih lanjut.

Meskipun identitas pelaku telah terungkap, motif serangan masih didalami. CCTV awal sempat mencatat inisial BHC dan MAK, yang kini dipastikan sama dengan daftar TNI.

Kondisi Terkini Andrie Yunus

Andrie Yunus masih dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Yoga Nara, Manajer Hukum dan Humas RSCM, menjelaskan bahwa terdapat kondisi iskemia atau kekurangan aliran darah pada area bawah sklera mata kanan, yang dapat berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.

Pada 25 Maret 2026, Andrie menjalani operasi terpadu oleh tim spesialis mata dan bedah plastik.

Prosedur meliputi pemindahan jaringan dalam mata, penempelan membran amnion, pemasangan kembali lensa pelindung mata, serta penjahitan sementara kelopak mata kanan untuk melindungi permukaan mata.

Tim medis juga menemukan penipisan jaringan kornea yang progresif akibat inflamasi.

Fokus utama perawatan kini adalah menjaga integritas bola mata kanan serta mengendalikan inflamasi agar tidak berkembang lebih parah.

RSCM menegaskan komitmennya memberikan penanganan medis optimal dan profesional, serta mengimbau masyarakat tetap tenang dan mempercayai tim medis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.