Pakar Migas Sarankan Diversifikasi Energi Hadapi Kenaikan Harga BBM
Siti Fatimah March 30, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Pemerintah diperkirakan akan menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai 1 April 2026 pukul 00.00 WIB. 

Penyesuaian harga ini dilakukan di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang membuat harga minyak mentah mencapai 116 dolar AS per barel.

Penyesuaian harga BBM mengacu pada formula dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. 

Diketahui, formula ini mempertimbangkan tiga komponen utama, yaitu harga acuan minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak, untuk memastikan harga di dalam negeri tetap sesuai dengan dinamika global.

Prof. Ir. Tutuka Ariadji, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Kelompok Keahlian Teknik Pemboran, Produksi, dan Manajemen Migas, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung, menilai kenaikan harga ini sulit dihindari dalam waktu dekat. 

“Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi dan belum menunjukkan tanda mereda," ujarnya, saat dihubungi Tribunjabar.id, Senin (30/3/2026) malam. 

Menurutnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dari Arab Saudi dan Nigeria, serta impor BBM dari Singapura dan Malaysia. 

"Artinya, fluktuasi harga minyak global langsung memengaruhi harga BBM domestik,” ujarnya.

Menurut Prof. Tutuka, pemerintah dan Pertamina perlu segera mengantisipasi potensi berkurangnya pasokan.

“Pertamina memiliki pengalaman panjang dalam mendatangkan minyak dari luar negeri, namun diversifikasi sumber energi domestik menjadi kunci untuk mengurangi risiko fluktuasi harga di masa depan,” jelasnya.

Di sisi lain, pemanfaatan energi gas dipandang sebagai solusi jangka menengah hingga panjang. 

Dikatakannya, Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar di Blok Andaman, Blok Agung 1 dan 2, serta Genk North di Selat Makassar. 

Selain itu, pengembangan Blok Masela dan wilayah kerja yang dikelola BP di Bintuni, Papua, diharapkan mampu memperkuat pasokan energi dalam negeri. 

"Saat ini, sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik sudah terpenuhi dari sumber dalam negeri, namun kondisi krisis saat ini membutuhkan pemanfaatan gas bumi lebih maksimal, baik untuk listrik, industri, maupun masyarakat melalui jaringan gas," jelasnya. 

Disinggsung soal alternatif mobilitas menggunkan Electric vehicles (EV) atau kendaraan listrik, Prof. Tutuka menekankan bahwa transisi menuju kendaraan listrik membutuhkan waktu, investasi infrastruktur, dan kesiapan industri. 

Pasalnya, dampak penyesuaian harga BBM tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga oleh masyarakat sehari-hari.

Kenaikan harga Pertamax, misalnya, dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi logistik, dan harga kebutuhan pokok.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.