TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Asap tipis dari bara arang mengepul pelan di sudut warung sederhana di Dukuh Wuni, Desa Tengulangharjo, Kecamatan Subah.
Aroma daging yang terbakar bercampur bumbu rempah menyengat hidung, mengundang siapa saja yang melintas untuk menoleh.
Di balik kepulan asap itu, tangan-tangan cekatan karyawan sate Nardi dan Kastimah, Darsonah (57) terus bekerja, membolak-balik tusukan sate tanpa henti.
Bagi pelanggan, warung ini mungkin sekadar tempat makan yang kerap dilekatkan dengan dengan sajian menu ekstrem.
Namun bagi Darsonah, tempat ini adalah saksi perjalanan panjang hidupnya lebih dari dua dekade mengabdi, bahkan jauh sebelum warung ini dikenal luas seperti sekarang.
“Dari tahun 1998 sampai sekarang,” kata Darsonah kepada Tribun Jateng, Senin (30/3), sambil tetap fokus pada bara yang menyala.
Baca juga: Cerita Slamet, Penjual Sate Blengong Brebes yang Setia Menanti Pemudik
Dia menceritakan, warung sate ini tidak dimulai dari bangunan permanen, apalagi strategi bisnis modern.
Semuanya berawal dari langkah kaki yang tak kenal lelah memikul dagangan keliling kampung.
Saat itu, menu utamanya bukan kambing atau kelinci seperti sekarang, melainkan sesuatu yang tak biasa: sate biawak.
“Awalnya ya dipikul, keliling jual sate biawak,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan hidup, bahkan ketika harus membesarkan anak kecil, ia tetap bertahan.
Tanpa banyak pilihan, ia menjajakan dagangan dari satu tempat ke tempat lain.
Dari situlah perlahan usaha ini tumbuh dari sekadar berjualan keliling, membuka lapak kecil di dekat cucian mobil, hingga akhirnya menetap di lokasi sekarang. Kini, usaha tersebut berkembang.
Cabang pun dibuka hingga kawasan Pantura, tepatnya Banyupandansari.
Di balik keunikan menu, tersimpan proses panjang yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Biawak, misalnya, bukan bahan yang mudah diolah.
“Disikat dulu pakai sabun, kayak nyuci baju. Terus dibersihkan kulitnya, direbus, dicuci lagi,” jelasnya.
Proses itu membutuhkan ketelatenan dan keberanian. Tak heran jika tidak banyak yang berani menekuni usaha serupa.
Namun bagi Darsonah, itu sudah menjadi rutinitas yang melekat selama puluhan tahun.
Selain biawak, kini menu semakin beragam, sate kambing, sate kelinci, hingga olahan rica dan gulai. Meski begitu, jejak awal sebagai penjual sate biawak tetap menjadi identitas yang tak tergantikan.
Seiring waktu, harga tentu mengalami perubahan.
Jika dulu satu porsi sate hanya Rp10.000 untuk 10 tusuk, kini harga menyesuaikan kondisi.
Sate kambing dibanderol Rp 60.000, sate kelinci Rp 50.000, dan sate biawak Rp 40.000 per porsi.
Namun yang menarik, pelanggan justru semakin beragam dan datang dari berbagai daerah.
“Dari Semarang, Bogor, Tegal banyak yang ke sini,” jelasnya.
Dalam sehari, penjualan bisa mencapai lebih dari 100 porsi. Untuk kelinci saja, bisa menghabiskan puluhan ekor per hari. Sementara biawak, jumlahnya tidak menentu tergantung ukuran dan ketersediaan. (Tito Isna Utama)