Hasanudin menjelaskan Pamsimas dibangun pada tahun 2010. Dengan kapasitas 10 ribu kubik, stok air mencukupi kebutuhan air
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Krisis air bersih masih melanda Kampung Pematangdurian, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang pascabanjir bandang yang terjadi empat bulan lalu.
Pemicu utama krisis ini akibat kerusakan jaringan Program Penyedia Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang selama ini menjadi andalan warga setempat.
“Pamsimas rusak berat, mesinnya hilang, baknya juga bocor,” kata Hasanuddin, warga Pematangdurian, Senin (30/3/2026).
Hasanudin menjelaskan Pamsimas dibangun pada tahun 2010. Dengan kapasitas 10 ribu kubik, stok air mencukupi kebutuhan air untuk 115 keluarga atau 367 jiwa.
Baca juga: Suplai Air Bersih Terganggu, Perbaikan Pipa Induk Jalur WTP Kemala–Sakti Dilakukan Darurat
Ketergantungan warga terhadap Pamsimas sangat tinggi mengingat di daerah ini tidak ada sumber air bersih yang layak.
Wajar bila kerusakan bak setinggi enam meter ini menyulitkan masyarakat.
“Kalau dulu kami cukup bayar 70 sampai 80 ribu per bulan untuk air Pamsimas, sekarang 300 ribu gak cukup karena harus beli di truk tangki,” ujarnya.
Asmawati (60), warga lainnya merasakan kesulitan ini karena setiap harinya terpaksa harus mengangkut air dari alur ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 100 meter.
“Mau beli gak ada uang, terpaksa angkut sendiri,” ungkapnya.
Sejumlah relawan saat ini tengah berupaya mengatasi krisis air bersih di Pematangdurian dengan melakukan pembenahan serius.
Salah satu langkah yang sedang dikerjakan membenahi jaringan Pamsimas.
“Kami bersama perangkat kampung dan masyarakat sedang memperbaiki Pamsimas mulai dari membeli mesin baru dan perbaiki jaringan,” kata Agus Setiawan, relawan Forum Konservasi Leuser (FKL).
Agus mengakui kerusakan jaringan air di daerah ini cukup parah karena tiga saluran pipa yang menghubungkan dua dusun, Bahagia dan Sukarahmat banyak yang pecah dan bocor.
Beberapa kerusakan saat ini sudah teratasi dengan mengganti pipa baru.
“Sebagian air sudah tersalurkan tapi belum maksimal karena masih ada pipa bocor,” kata Agus.
FKL bersama organisasi lainnya, misalnya CRS saat ini sedang menyusun strategi memasang mesin filter agar kualitas air yang didistribusikan bisa lebih baik.
“Airnya masih keruh, makanya kami berpikir ini perlu mesin filter,” tutup Agus. (mad)
Baca juga: Tindaklanjuti Keluhan Petani, Bupati Nagan Raya TRK Instruksikan Rehabilitasi Irigasi Lung Tiga