Oleh: Pastor John Lewar SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik Selasa 31 Maret 2026.
Tema renungan Katolik "luka terdalam sering datang dari orang terdekat".
Renungan Katolik untuk hari Selasa dalam pekan suci, Santo Benyamin, Martir, dengan warna liturgi ungu.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 31 Maret 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Teks Misa Kamis Putih 2 April 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
"Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."
Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.
Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing, dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.
Ia berfirman kepadaku, “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia! Namun, hakku terjamin pada Tuhan, dan upahku pada Allahku.”
Maka sekarang berfirmanlah Tuhan yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya; yang karenanya aku dipermuliakan di mata Tuhan, dan Allahku menjadi kekuatanku; beginilah firman-Nya, “Terlalu sedikit bagimu untuk hanya menjadi hamba-Ku, hanya menegakkan suku-suku Yakub, dan mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara.
Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 71:1-2.3-4a.5-6b.15.17
Ref. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, ya Tuhan.
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-sekali aku mendapat malu. Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
2. Jadilah padaku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik!
3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku!
Bait Pengantar Injil
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Salam, ya Raja kami yang setia kepada Bapa; Engkau dibawa untuk disalibkan, tidak membuka mulut seperti domba yang dibawa ke pembantaian.
Bacaan Injil Yohanes 13:21-33.36-38
"Salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku ... Sebelum ayam jantan berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali."
Di dalam perjamuan Paskah dengan murid-murid-Nya Yesus sangat terharu, lalu bersaksi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain; mereka bertanya-tanya siapa yang dimaksudkan-Nya.
Seorang di antara murid-murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyakanlah siapa yang dimaksudkan-Nya!”
Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dia adalah orang, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.”
Sesudah berkata demikian, Yesus mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis.
Maka Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.
Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi.
Pada waktu itu hari sudah malam. Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, Sekarang Anak Manusia dipermuliakan, dan Allah dipermuliakan dalam Dia.
Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, tinggal sedikit waktu saja Aku bersama kamu.
Kamu akan mencari Aku, dan seperti telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi ‘Ke tempat Aku pergi tidak mungkin kamu datang’ demikian pula Aku mengatakannya sekarang kepada kamu.
Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang,, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”
Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.” Sahut Yesus, “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Tema: Luka Terdalam Sering Datang dari Orang Terdekat
Pengkhianatan memang sesuatu yang sangat menyakitkan, apalagi ketika itu dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita. Luka yang ditimbulkan bisa menjadi luka yang menyakitkan seumur hidup. Tentu saja sangat sulit untuk memaafkan orang yang telah mengkhianati kita. Pengkhianatan sering kali menghancurkan kehidupan manusia.
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mengetahui bahwa Ia akan mengalami pengkhianatan dari murid-Nya. Maka Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Yesus tahu bahwa Yudas Iskariot akan menyerahkan diri-Nya. Ia merasa sangat sedih karena begitu mencintai mereka, tetapi justru dibalas dengan pengkhianatan. Namun, Yesus tidak sedikit pun menunjukkan kebencian kepada Yudas Iskariot. Ia tetap meneguhkan hati para murid-Nya.
Tuhan Yesus sudah begitu baik terhadap manusia, tetapi balasan yang diterima justru pengkhianatan. Ia sungguh sedih melihat hal itu, namun tidak menunjukkan kebencian kepada mereka. Sebaliknya, Yesus meneguhkan hati para murid agar siap menerima semuanya. Ia ingin para murid tetap tegar dan berhati besar, serta terus melanjutkan karya agung untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia.
Pertama: Luka Pengkhianatan dari Orang Terdekat
Sahabat yang setia kadang-kadang bisa menjadi sumber luka yang paling dalam. Kita sering lebih mudah menerima pengkhianatan dari orang yang tidak kita kenal daripada dari orang yang kita percayai. Yesus merasakannya secara mendalam.
Di saat yang sama ketika Yesus tahu bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya, Ia menunjukkan sikap yang luar biasa. Ia tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan ketenangan dan kasih yang tidak terpengaruh oleh pengkhianatan itu. Kasih Yesus tidak bergantung pada bagaimana orang lain membalas-Nya. Meskipun Yudas mengkhianati-Nya, kasih-Nya tetap tidak berubah.
Kita diajak untuk meniru kasih ini kasih yang tidak bergantung pada perlakuan orang lain, kasih yang tetap setia meskipun disakiti, bahkan oleh orang yang dekat dengan kita.
Kedua: Kelemahan Manusia dalam Kesetiaan
Petrus adalah salah satu murid yang dengan penuh keyakinan berkata kepada Yesus, “Aku akan setia kepada-Mu, meskipun aku harus mati bersama-Mu.” Namun, Yesus tahu bahwa pada akhirnya Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali. Ini menunjukkan betapa rapuh dan terbatasnya kekuatan manusia.
Kita sering kali berjanji untuk setia kepada Tuhan, tetapi ketika ujian datang, kita gagal. Seperti Petrus, kita bisa merasa sangat kuat dalam iman, tetapi tetap manusia yang lemah. Namun, dalam kelemahan itu, Yesus tidak meninggalkan Petrus.
Bahkan setelah menyangkal-Nya, Petrus dipulihkan dan diberikan tugas untuk menggembalakan domba-domba Tuhan. Yesus mengingatkan kita bahwa kasih dan kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kesempurnaan kita, melainkan pada anugerah-Nya yang besar.
Dalam kegagalan kita, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetapi selalu memberi kesempatan untuk bertumbuh dan kembali kepada-Nya.
Ketiga: Kasih yang Tak Tergoyahkan
Di tengah pengkhianatan Yudas dan ketidaksetiaan Petrus, Yesus tetap menunjukkan kasih yang tak tergoyahkan. Ia tidak berhenti mengasihi mereka, bahkan saat mereka berbalik meninggalkan-Nya.
Kasih seperti ini tidak bergantung pada kondisi, situasi, atau respons manusia. Ini adalah kasih yang murni dan tulus, yang hanya bisa datang dari Tuhan sendiri.
Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi tanpa syarat—terutama kepada mereka yang mungkin mengecewakan atau bahkan menyakiti kita.
Apa yang Tuhan Inginkan dari Kita?
Kita semua tahu betapa beratnya menerima pengkhianatan, terutama dari orang yang kita kasihi. Namun, melalui kisah ini, Tuhan mengajarkan kita untuk memiliki kasih yang lebih besar—kasih yang tidak dikuasai oleh sakit hati.
Tuhan juga mengingatkan kita akan kelemahan kita sebagai manusia. Namun yang lebih penting, kasih-Nya yang setia dan tak tergoyahkan selalu ada bagi kita.
Doa
Tuhan Yesus, kami datang kepada-Mu dengan hati yang penuh syukur, karena Engkau mengajarkan kami kasih yang tidak pernah gagal kasih yang setia bahkan di tengah pengkhianatan dan kegagalan.
Kami mengakui bahwa kami sering jatuh dalam iman dan kesetiaan kami. Namun, Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Kami mohon agar kasih-Mu mengalir dalam hidup kami, sehingga kami mampu mengasihi orang lain tanpa bergantung pada balasan.
Berilah kami kekuatan untuk tetap setia dan mengasihi, meskipun menghadapi pengkhianatan dan kekecewaan. Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin. (sumber the katolik.com/kgg).