TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026).
Warga Banyumas pun khawatir, realisasi isu tersebut akan memicu kenaikan harga kebutuhan lain.
Pantauan Tribunbanyumas.com di sejumlah SPBU di Purwokerto, Selasa siang, antrean kendaraan untuk mengisi BBM terlihat mengular.
Antrean tersebut didominasi kendaraan sepeda motor.
Padahal, biasanya, antrean kendaraan mengisi BBM terjadi saat sore hari saat warga pulang kerja.
Baca juga: Beredar Infografis Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Per April 2026, Begini Kata Pertamina
Antrean panjang tak hanya terjadi di tempat pengisian BBM bersubsidi atau Pertalite tetapi juga di BBM nonsubsidi semisal Pertamax dan Pertamax Turbo.
Padahal, harga BBM nosubsidi di SPBU masih sama dengan kemarin.
Di SPBU Watumas misalnya, harga BBM nonsubsidi Pertamax Turbo (RON 98) masih di angka Rp13.100 per liter, Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, Pertamina Dex Rp14.500 per liter, dan Dexlite Rp14.200 per liter.
Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Ovis Purwokerto dengan harga yang sama, meski stok Pertamax Turbo (RON 98) dilaporkan kosong.
Sementara itu, di Pertashop Jalan Gereja Purwokerto, harga Pertamax (RON 92) masih berada di angka Rp12.200 per liter.
Sejumlah warga mengaku mulai khawatir terkait kemungkinan kenaikan harga BBM, seperti informasi yang beredar di media sosial.
"Saya sudah lihat di sosial media, (BBM) yang nonsubsidi (bakal) naik."
"Jelas berdampak, apalagi buat ibu-ibu, dapur bisa 'meledak' dalam artian kebutuhan jadi meningkat," kata Dian (39), ibu rumah tangga asal Purwokerto, kepada Tribunbanyumas.com, Selasa.
Menurutnya, kenaikan BBM akan berimbas langsung pada kebutuhan sehari-hari, mengingat aktivitas keluarganya sangat bergantung pada kendaraan.
"Karena kita ke mana-mana pakai kendaraan dan butuh bensin."
"Gak worth it banget kalau (harga BBM) naik, apalagi ini lagi masa inflasi," katanya.
Dian menyebut, dalam sehari, dirinya mengeluarkank uang Rp20 ribu hingga Rp25 ribu untuk membeli BBM kendaraan.
Dia menggunakan kendaraan untuk antar-jemput anak sekolah dan aktivitas lain.
Pendapat serupa juga disampaikan Sean Yoshi (28).
Ia menilai kemungkinan kenaikan harga BBM tetap terbuka, terutama dipengaruhi kondisi geopolitik global serta perang di Timur Tengah.
"Sebenarnya, kalau bicara BBM naik atau tidak, sangat bisa saja naik karena pengaruh perang."
"Tapi, tadi saya isi Pertamax (harga) masih sama, hanya antreannya sekarang lebih panjang," katanya.
Baca juga: Siasat Pemkab Banyumas Hadapi Isu Kenaikan BBM dan Pemangkasan Anggaran Pusat: Gandeng CSR Swasta
Sean mengaku, dalam sehari, mengeluarkan sekitar Rp30 ribu untuk mengisi BBM karena mobilitasnya yang tinggi, termasuk perjalanan rutin dari Cilacap ke Purwokerto.
Ia menambahkan, antrean kendaraan untuk BBM nonsubsidi kini mulai menyerupai antrean Pertalite di beberapa SPBU.
Isu kenaikan harga BBM beredar di media sosial sejak beberapa hari terakhir.
Bahkan, muncul infografis yang menggambarkan lonjakan harga BBM yang bakal terjadi.
Namun, informasi tersebut belum dapat dipertanggungjawabkan.
Lewat akun resmi Instagram PT Pertamina Persero, Pertamina menegaskan, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM per 1 April 2026.
Masyarakat diminta hanya mengakses informasi valid melalui saluran resmi perusahaan, termasuk situs www.pertamina.com.
Selain itu, Pertamina juga mengimbau masyarakat menggunakan energi secara bijak. (*)