Menakar Jejak Sri Sultan HB II Menuju Gelar Pahlawan Nasional, Wamensos Tekankan Tiga Aspek Krusial
Muhammad Fatoni March 31, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gelombang dukungan untuk menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II sebagai Pahlawan Nasional belakangan semakin menguat. 

​Dalam Seminar Nasional bertajuk "Jejak Kepahlawanan Sultan Hamengku Buwono II: Menyongsong Gelar Pahlawan Nasional" yang digelar secara hybrid, Senin (30/3/2026), sosoknya pun dibedah secara multidimensi. 

​Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Agus Jabo Priyono, yang hadir dalam agenda tersebut memberikan catatan khusus terkait sepak terjang Sri Sultan HB II. 

Menurutnya, gelar Pahlawan Nasional adalah pengakuan negara atas dedikasi luar biasa yang harus berpijak pada tiga pilar utama, yakni aspek historis dengan data otentik, dampak luas bagi bangsa, serta kesinambungan nilai perjuangan bagi generasi masa kini.

​"Kami mengapresiasi semangat masyarakat dan keluarga. Nantinya, semua usulan akan melalui mekanisme Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan dengan landasan riset yang kuat," ujarnya.

Sebagai informasi, sampai sejauh ini, usulan telah memasuki tahap verifikasi lapangan oleh tim peneliti pusat, guna mencocokkan dokumen sejarah dengan fakta di lapangan. 

Jika hasilnya benar-benar selaras, langkah selanjutnya adalah masuk ke meja Presiden Prabowo Subianto, untuk diputuskan melalui Keputusan Presiden (Keppres).

Seminar Nasional

Adapun forum seminar nasional menghadirkan jajaran narasumber kompeten yang membedah sosok Sri Sultan HB II dari berbagai sudut pandang, mulai dari catatan sejarah hingga peninggalan budaya. 

Antara lain, Prof. Dr. Djoko Marihandono, S.S., M.Si. (Guru Besar Ilmu Sejarah FIB UI) yang memaparkan konteks politik masa kepemimpinan Sri Sultan HB II, terutama perlawanannya terhadap kebijakan Daendels dan Raffles yang merugikan kedaulatan keraton.

Dr. Harto Juwono, M. Hum. (Dosen Ilmu Sejarah FIB UNS) yang menyoroti dokumentasi sejarah dan fakta-fakta lapangan mengenai strategi pertahanan Sultan HB II dalam menghadapi agresi militer Inggris (Geger Sepehi).

Lalu, Dr. Ananta Hari Noorsasetya, S.Sn., M.Ikom. (Pengamat Seni Budaya dan Trah Sultan HB II) yang memberikan perspektif dari sisi pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh sang Sultan kepada para keturunannya serta masyarakat luas.

Baca juga: Ratusan Buruh Unjuk Rasa di Kantor Gubernur DIY, Tuntut Ketegasan Pemda soal Pelanggaran Hak Pekerja

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan, bahwa Sri Sultan HB II adalah sosok yang meletakkan dasar identitas visual dan konstitusi melalui seni dan sastra. 

"Sri Sultan HB II bukan sekadar raja, beliau adalah fashion designer pertama Indonesia dan penulis Serat Suryaraja yang menjadi konstitusi keraton. Warisan desainnya, mulai dari ornamen Paduraksa hingga motif Manuk Beri," katanya.

"Itu DNA kreativitas yang kini diadaptasi oleh hotel mewah dan industri fashion modern. Jadi, mendukung HB II sebagai Pahlawan Nasional berarti kita mendukung kebudayaan sebagai kekuatan utama bangsa," tambah Ananta.

Kemudian, yang tak kalah memukau, di bawah kepemimpinannya selama 1792 - 1828, karya-karya monumental seperti Taman Sari, Pesanggrahan Rejawinangun (Warungboto), hingga benteng Baluwarti, dibangun dengan kecerdasan arsitektur defensif. 

Sementara, Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto mengatakan, sisi keteguhan politik dan visi spasial, turut mempertegas kelayakan gelar Pahlawan Nasional bagi Sri Sultan HB II.

​Menurutnya, raja dengan nama kecil Raden Mas Sundoro tersebut merupakan pejuang anti-kolonial yang konsisten menolak VOC, Daendels, hingga Raffles, meski harus diasingkan hingga tiga kali. 

"Namun di sela perjuangan itu, beliau membangun sistem pertahanan cerdik lewat lorong bawah tanah dan menara pengintai seperti Panggung Krapyak. Visi 'Kedaulatan Kebudayaan' beliau adalah pilihan terbaik untuk membangun karakter bangsa yang kuat di era global," pungkasnya. (*)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.