Pasca Lebaran, Penyakit ISPA di Tarakan Masih Stagnan, Dinkes Masih Tunggu Data dari Puskesmas
Junisah March 31, 2026 05:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mulai memantau tren penyakit yang muncul pasca libur panjang lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Meski demikian, hingga akhir Maret 2026, belum ditemukan adanya peningkatan signifikan jumlah kunjungan pasien di fasilitas kesehatan.

Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Tarakan, Irwan Yuwanda, menjelaskan selama masa cuti bersama dan libur lebaran, pelayanan kesehatan tetap berjalan terbatas di beberapa puskesmas yang ditunjuk.

“Selama cuti bersama dan Idul Fitri 1147 Hijriah, pelayanan Puskesmas difokuskan pada layanan 24 jam dan persalinan. Untuk 24 jam ada Puskesmas Karang Rejo dan Juwata, sedangkan layanan persalinan juga dilayani di Puskesmas Gunung Lingkas,” ujar Irwan Yuwanda.

Memasuki masa pasca Lebaran 2026, Dinkes Tarakan mulai mencermati potensi munculnya penyakit yang biasa meningkat setelah momen hari raya, baik penyakit menular maupun tidak menular.

Baca juga: Pasca Lebaran Waspadai Penyakit Diare dan ISPA, Dinkes Tarakan Imbau Masyarakat Atur Pola Makan

Menurut Irwan Yuwanda, penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), flu, serta penyakit infeksi lainnya menjadi perhatian utama. Selain itu, penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan kesehatan gigi juga masuk dalam daftar pemantauan rutin.

“Biasanya setelah beberapa hari pasca lebaran, memang ada tren penyakit yang kita perhatikan. Tapi untuk saat ini, dari sisi pelayanan, belum ada kenaikan signifikan. Kunjungan masih standar, cenderung stagnan,” katanya.

Ia menjelaskan, data sementara yang dihimpun dari Puskesmas menunjukkan jumlah kunjungan pasien belum mengalami lonjakan hingga setelah  25 Maret. Namun demikian, pihaknya masih menunggu rekapitulasi lengkap hingga akhir bulan.

Dinkes Tarakan sendiri akan melakukan evaluasi terhadap 10 besar penyakit yang tercatat selama Maret 2026 dan membandingkannya dengan periode Februari 2026 untuk melihat adanya tren peningkatan kasus baru.

“Nanti akan kita lihat apakah ada kenaikan signifikan, misalnya dari 200 kasus di Februari menjadi 500 di Maret. Itu yang akan kita analisis lebih lanjut,” jelasnya.

Baca juga: Usai Konsumsi Makanan Tinggi Lemak, Gula hingga Garam Saat Lebaran, Disarankan Cek Kesehatan

Irwan Yuwanda menekankan data yang tersedia saat ini baru berasal dari kunjungan di puskesmas. Sementara itu, gambaran kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan di Tarakan belum sepenuhnya tergambar karena belum mencakup data dari klinik dan dokter praktik mandiri.

“Kalau mau lihat kondisi seluruh kota, harus dikompilasi juga dengan data dari klinik dan dokter praktik mandiri. Karena masyarakat tidak hanya berobat ke puskesmas,” tambahnya.

Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 14 hingga 15 klinik kesehatan di Tarakan yang terdaftar resmi dan wajib melaporkan data pelayanan setiap bulan.

Meski belum ada lonjakan kasus, Dinkes tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat pasca lebaran, terutama setelah konsumsi makanan tinggi lemak dan gula selama hari raya.

“Yang jelas, kita tetap waspada. Nanti setelah data lengkap keluar, baru bisa kita simpulkan apakah ada tren peningkatan penyakit tertentu atau tidak,” tutup Irwan.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.