TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pergerakan harga komoditas pangan di Pasar Induk Malinau Kalimantan Utara menunjukkan tren kontras dengan adanya kenaikan harga bawang merah dan ikan kembung di tengah penurunan harga kelompok cabai, Selasa (31/3/2025)
Komoditas bawang merah tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp 1.750 per kilogram dibandingkan dengan harga pada periode pekan sebelumnya Saat ini bumbu dapur tersebut dibanderol seharga Rp 52.500 per kilogram dari harga semula yang berada di angka Rp 50.750.
Selain bawang merah, kenaikan harga yang cukup terasa bagi konsumen juga terjadi pada komoditas ikan kembung di Pasar Induk Malinau tersebut. Untuk harga ikan kembung naikRp 5.000 menjadi Rp 45.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya Rp 40.000 per kilogram.
Data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Malinau melalui tim pemantau mencatat fluktuasi ini terjadi pada kelompok bumbu dan perikanan.
Baca juga: Usai Lebaran Harga Cabai, Bawang Merah hingga Tomat Naik di Tarakan, Pasokan Kosong dari Sulawesi,
Berbanding terbalik dengan bawang merah dan ikan kembung kelompok cabai justru mengalami penurunan harga yang cukup tajam hari ini.
Penurunan paling signifikan dialami cabai merah keriting sebesar Rp 11.250 sehingga harga kini berada pada level Rp 78.750 per kilogram.
"Untuk lombok (cabai rawit) memang ada turun dari minggu kemaren itu setelah lebaran sempat naik Rp 140 ribu," ujar Pedagang, Andi.
Kondisi serupa terjadi pada cabai merah besar yang turun menjadi Rp 63.750 serta cabai rawit merah di harga Rp 125.000 per kilogram.
Sementara kenaikan harga ikan tertentu disebut sangat bergantung pada pasokan ikan dari daerah penghasil.
Koordinator Pasar Induk Malinau, Sulaiman menyebut ketersediaan dari luar daerah termasuk gelombang tinggi biasanya menyebabkan fluktuasi harga.
"Biasanya kenaikan harga itu hanya sedikit. Stok dari luar sama gelombang tinggi biasanya yang buat harga naik turun," katanya.
Di luar fluktuasi tersebut harga kebutuhan pokok utama seperti beras, beras premium, minyak goreng, dan daging sapi terpantau tetap stabil.
(*)
Penulis : Mohammad Supri