TRIBUNJAMBI.COM - Kisah asmara lintas negara antara Muhammad Riski Hariyanto dan Ania Korczewska Hariyanto mendadak menjadi perhatian publik, setelah perjalanan cinta keduanya berujung ke pelaminan.
Pria yang akrab disapa Kiki itu diketahui berasal dari Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Ia resmi menikahi perempuan asal Polandia bernama Ania Korczewska, yang kini menyandang nama belakang Hariyanto.
Perjalanan cinta keduanya ternyata tidak instan. Kiki mengaku sejak remaja memang memiliki ketertarikan terhadap warga negara asing (WNA), bahkan bercita-cita menikah dengan perempuan luar negeri.
"Sejak kecil saya memang suka orang WNA. Saya ingin menikah dengan WNA sejak remaja," ucapnya melalui sambungan telepon, Senin (30/3/2026).
Takdir mempertemukan keduanya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Saat itu, Kiki tengah bekerja sebagai pengemudi ojek online di area bandara.
"Saat itu saya sedang bekerja ojek online di bandara. Di sana saya berkenalan dan bertemu pertama kali," kata Kiki.
Pertemuan pertama tersebut meninggalkan kesan mendalam. Hubungan mereka berlanjut hingga semakin intens, apalagi saat Ania menjalani program pertukaran pelajar di Bandung dan kerap berlibur ke Bali.
Baca juga: Sosok Amelia Anggraini, Anggota DPR yang Desak Evaluasi Perlindungan Pasukan TNI di Lebanon
Baca juga: Terpidana Seumur Hidup, Helen Dian Krisnawati Kembali Disidang Kasus TPPU
Seiring waktu, keduanya menjalin hubungan yang semakin serius. Pada 2019, Kiki bahkan mengajak Ania pulang ke Madura untuk bertemu keluarganya.
"Setahun berlalu, tahun 2019 dia saya ajak ke Madura, bertemu keluarga saya," tutur Riski.
Namun, hubungan mereka sempat diuji jarak dan waktu. Ania harus kembali ke negaranya setelah program pertukaran pelajar selesai, dan pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada 2020 membuat mereka tak bisa bertemu.
"Hampir putus hubungan waktu itu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa meski rindu," katanya.
Setelah dua tahun terpisah, keduanya akhirnya kembali bertemu di Turkiye pada 2022. Momen tersebut menjadi titik balik hubungan mereka, hingga akhirnya sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
"Di Turkiye kami bersepakat untuk menikah. Pada tahun 2023 saya ke Polandia meminta restu. Keluarganya sangat terbuka dan menyambut saya dengan baik," kata Kiki.
Meski sudah mantap menikah, perjalanan mereka belum sepenuhnya mulus. Keduanya sempat terkendala administrasi pernikahan lintas negara yang cukup rumit.
Kiki mengaku harus belajar banyak hal dan mencari informasi terkait dokumen yang dibutuhkan sebelum akhirnya semua proses dapat diselesaikan.
"Saya belajar ke banyak orang, dokumen apa yang dibutuhkan. Setelah penantian panjang, akhirnya kami bisa menikah di Bondowoso," ungkapnya.
Pernikahan mereka akhirnya terlaksana pada Desember 2025. Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, Kiki memutuskan untuk menetap bersama sang istri di Polandia.
Saat ini, ia masih mengurus izin tinggal di negara tersebut setelah menyelesaikan seluruh dokumen administrasi dari Indonesia.
"Kalau lancar, tahun 2028 saya kembali ke Pamekasan. Di sini saya betah, orangnya baik-baik," tuturnya.
Kisah Serupa: Cinta Beda Negara Berujung Pelaminan
Cerita cinta lintas negara juga datang dari pasangan Gursewak Singh dan Ambarwati.
Gursewak, pria asal Punjab, India, resmi menikahi Ambarwati yang berasal dari Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Prosesi akad nikah mereka digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Pengadegan pada Jumat (27/3/2026) dan berlangsung unik karena menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni Indonesia, Inggris, dan Arab.
Ijab kabul diucapkan dalam bahasa Inggris agar dapat dipahami kedua mempelai, sementara khutbah nikah disampaikan dalam tiga bahasa agar maknanya tersampaikan secara menyeluruh.
“Pengalaman saya baik sekali di sini, semua staf sangat membantu, apa pun yang saya butuhkan, mereka membantu secara maksimal, dan semua berjalan lancar, terima kasih,” kata Gursewak.
Menurut Kepala KUA Pengadegan, Saroyo, keduanya pertama kali bertemu di Batam, Kepulauan Riau, sebelum akhirnya Gursewak datang ke kampung halaman Ambarwati untuk melamar.
“Calon pengantin pria ini datang ke KUA untuk konsultasi, petugas lalu memberikan penjelasan lengkap terkait prosedur dan persyaratan, termasuk soal agama kedua calon pengantin,” kata Saroyo.
Sebelum menikah, Gursewak yang sebelumnya memeluk agama Sikh juga memutuskan menjadi mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, didampingi penghulu.
Kini, pasangan tersebut berencana melanjutkan kehidupan rumah tangga mereka di luar negeri.
“Setelah ini katanya mereka mau ke Milan, Italia, sekitar bulan Mei,” pungkasnya.