TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penutupan jalur logistik strategis, Selat Hormuz, mulai berdampak pada industri dalam negeri, khususnya sektor petrokimia yang bergantung pada pasokan bahan baku dari Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, gangguan logistik energi di kawasan tersebut belum memukul seluruh sektor industri secara luas.
"Terkait dengan krisis logistik energi di Timur Tengah, sampai saat ini kami sampaikan bahwa dampaknya terhadap industri masih terbatas pada subsektor industri tertentu, terutama subsektor industri yang menggunakan bahan baku dari Timur Tengah, terutama bahan baku yang berasal dari kimia atau petrokimia," tutur Febri dalam Konferensi Pers Rilis Indeks Kepercayaan Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).
Industri yang bergantung pada bahan baku impor dari kawasan tersebut mulai mengalami hambatan pasokan. Akan tetapi, kondisi ini belum sampai menghentikan aktivitas produksi secara keseluruhan.
"Yang jelas untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah memang sedikit tersendat," jelas Febri.
Baca juga: Trump Bersedia Akhiri Perang dengan Iran meski Selat Hormuz Ditutup, AS Ingin Capai Tujuan Utamanya
Febri menambahkan, perusahaan masih memanfaatkan stok bahan baku yang tersedia untuk menjaga keberlangsungan produksi.
"Sampai saat ini industri yang sama masih berproduksi menggunakan bahan baku yang ada dan kemudian masih tetap akan berproduksi," imbuhnya.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari melemahnya permintaan domestik pada Maret 2026 yang turut memengaruhi tingkat produksi industri.
"Ada beberapa faktor lain lagi yang menyebabkan industri mengurangi sedikit produksinya, yakni terkait dengan penurunan demand domestik pada bulan Maret 2026," ucap Febri.
Kondisi pasokan yang tersendat turut memicu kenaikan harga pada sejumlah produk turunan petrokimia di pasar. Kenaikan ini dinilai sebagai respons pelaku pasar terhadap keterbatasan bahan baku.
Produk petrokimia seperti olefin dan plastik, memiliki peran penting sebagai bahan baku bagi berbagai sektor industri lainnya. Oleh karena itu, gangguan di sektor hulu berpotensi berdampak berantai ke industri hilir.
Meski saat ini produksi masih berjalan, pemerintah mengakui ketidakpastian ke depan tetap menjadi perhatian.
"Tentu karena di hulunya bahan bakunya sedikit tersendat, tapi masih berproduksi sampai saat ini. Kita nggak tahu ke depan akan seperti apa," ujar Jubir Kemenperin.