TRIBUNNEWS.COM - Gelaran FIFA Series 2026 yang dilakoni Timnas Indonesia resmi berakhir.
Meski skuad asuhan John Herdman tampil menjanjikan dengan melumat Saint Kitts and Nevis 4-0 dan kalah tipis 0-1 dari Bulgaria, tak semua pemain mendapatkan kesempatan unjuk gigi.
Tercatat ada tiga nama yang harus rela menjadi penghangat bangku cadangan sepanjang turnamen.
Mereka tetap setia di sisi lapangan tanpa mencicipi satu menit pun atmosfer pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Sektor penjaga gawang menjadi area dengan persaingan paling sengit.
Dari empat kiper yang dipanggil John Herdman, dua nama harus gigit jari. Mereka adalah Nadeo Argawinata dan Cahya Supriadi.
Dua bintang yang merumput di kompetisi domestik (Super League) ini kalah saing dengan kiper-kiper abroad.
John Herdman lebih memilih menurunkan Maarten Paes (Ajax Amsterdam) saat melawan Saint Kitts and Nevis, yang sukses mengukir clean sheet.
Sementara saat laga final melawan Bulgaria, giliran eks kiper Inter Milan, Emil Audero, yang turun sebagai starter.
Meski gawangnya bobol lewat penalti Marin Petkov, performa Emil tetap membuat Nadeo dan Cahya sulit menggeser posisinya.
Baca juga: Timnas Indonesia Kalah, Apesnya John Herdman yang Sulit dapat Poin Lawan Negara Eropa
Nama ketiga yang bernasib serupa adalah striker tajam milik Bali United, Jens Raven.
Kedatangan Jens Raven ke skuad Garuda sebenarnya merupakan berkah mendadak setelah Mauro Zijlstra mengalami cedera usai mencetak gol debut di laga semifinal.
Diharapkan menjadi solusi pemecah kebuntuan saat melawan Bulgaria, Jens Raven justru hanya duduk manis di bangku cadangan sepanjang laga.
John Herdman lebih mempercayakan lini depan kepada trio Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan Ramadhan Sananta.
Padahal, publik sempat menanti tuah sang bomber Bali United tersebut untuk membongkar pertahanan gerendel Bulgaria.
Kini, ketiga pemain tersebut harus segera kembali ke klub masing-masing dan berharap kesempatan membela Merah Putih datang di kalender FIFA berikutnya.
Kekalahan menyakitkan di partai puncak ini berdampak langsung pada perolehan poin Timnas Indonesia di tabel peringkat dunia.
Berdasarkan live update dari laman resmi FIFA, per Senin (30/3) pukul 22.00 WIB, Timnas Indonesia harus kehilangan -3,81 poin akibat hasil minor ini.
Sebelumnya, skuad asuhan John Herdman sempat memanen poin usai melibas Saint Kitts and Nevis 4-0 di laga semifinal. Namun, tambahan poin tersebut kini tergerus kembali.
Beruntung, meski kehilangan poin, posisi Timnas Indonesia masih tertahan di peringkat 121 dunia dengan total 1.144,88 poin.
Di sisi lain, Bulgaria yang datang sebagai unggulan berhasil membawa pulang tambahan +3,81 poin.
Tim asuhan Aleksandar Dimitrov kini mengoleksi total 1.278,90 poin dan duduk nyaman di peringkat 86 dunia.
Simak update ranking FIFA paling update di sini: Link <<<
Kekalahan atas Bulgaria ini memperpanjang catatan kelam Timnas Indonesia saat berhadapan dengan negara-negara asal Benua Biru.
Sepanjang sejarah, terutama dalam dua dekade terakhir, Garuda seolah menemui tembok tebal setiap kali menjajal kekuatan wakil UEFA.
Data menunjukkan dalam lima pertemuan terakhir melawan tim Eropa, Indonesia mencatatkan hasil yang kurang memuaskan:
Satu hal yang menyesakkan adalah fakta bahwa Timnas Indonesia belum pernah mampu menang di kandang sendiri saat menjamu tim Eropa dalam 20 tahun terakhir.
Satu-satunya kemenangan atas Andorra pada Maret 2014 silam diraih saat Garuda melakoni pemusatan latihan di Spanyol, bukan di hadapan publik sendiri.
Kekalahan dari Bulgaria di SUGBK semalam menegaskan bahwa level sepak bola Eropa masih menjadi tantangan besar bagi perkembangan Timnas Indonesia menuju panggung dunia yang lebih tinggi.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)